Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Anggaran Revitalisasi Apel di Kota Batu Tahun Ini Nyaris Rp400 Juta

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:30 WIB

BAKAL DISASAR BANTUAN: Komoditas apel diproyeksikan bakal mendapat jatah bantuan hibah untuk revitalisasi dan demonstrasi plot (demplot) apel.
BAKAL DISASAR BANTUAN: Komoditas apel diproyeksikan bakal mendapat jatah bantuan hibah untuk revitalisasi dan demonstrasi plot (demplot) apel.

BATU - Upaya revitalisasi apel tahun ini bakal menyerap anggaran sebesar Rp394,4 juta. Anggaran tersebut akan digunakan untuk program sarana produksi pertanian (saprodi) dan demonstrasi plot (demplot) apel. Dari total itu, Rp246,9 juta dialokasikan untuk revitalisasi tanaman apel dan Rp147,4 juta untuk pengembangan demplot sebagai lahan percontohan.

Namun hingga kini, penyaluran bantuan belum dapat direalisasikan karena penerima belum ditetapkan. “Per hari ini (kemarin) belum ditentukan penerimanya,” ujar Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Distan-KP Kota Batu, Retno Indahwati.

Program revitalisasi difokuskan pada pemulihan kesuburan lahan yang menurun akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang. Selain itu, perubahan cuaca dan iklim yang kian ekstrem turut memengaruhi produktivitas apel. Saat ini, menurut Retno, hanya Kecamatan Bumiaji yang masih relatif memungkinkan untuk pengembangan apel.

Komponen bantuan didominasi pupuk organik, baik padat maupun cair. Bantuan itu bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kualitas media tanam. Petani juga akan menerima dolomit untuk menetralkan pH tanah sehingga penyerapan unsur hara lebih optimal.

Bantuan lainnya mencakup pestisida nabati yang berbasis bahan alami dan lebih ramah lingkungan. Distan-KP juga akan menyalurkan agens hayati serta Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), mikroorganisme yang berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman sekaligus melindungi perakaran dari penyakit.

Sementara itu, program demplot diarahkan sebagai sarana pembelajaran kolektif bagi petani. Retno menegaskan, kelompok tani penerima saprodi demplot tahun ini berbeda dengan penerima tahun sebelumnya. “Kelompok tani yang menerima bukan yang sama dengan tahun lalu,” ujarnya.

Hasil dari demplot diharapkan menjadi model budidaya yang bisa direplikasi petani lain. Dengan demikian, peningkatan produktivitas tidak berhenti pada satu lokasi, melainkan meluas secara bertahap.

Di sisi lain, kerja sama riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berjalan sejak 2022 masih berlanjut. Kolaborasi itu diarahkan pada pengembangan lahan apel dan pencarian varietas baru yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#POPT #demplot #kota batu #Saprodi