BATU - Kesenjangan kemampuan akademik antarsiswa menjadi tantangan utama operasional Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Batu. Memasuki semester kedua, sekolah mulai memfokuskan penguatan kualitas melalui misi “DNA Unggul”. Tujuannya untuk mengejar ketertinggalan sekaligus membangun kepercayaan publik.
Saat ini, sebanyak 149 siswa menempuh pendidikan di SRMP 14 Batu. Mereka berasal dari latar belakang daerah yang beragam, mulai dari Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga Kota Kediri. Selama tiga bulan pertama, siswa menjalani masa adaptasi lingkungan belajar dan pembiasaan sebelum memasuki fase penguatan akademik.
Kepala SRMP 14 Batu Yulianah mengatakan, disparitas kemampuan akademik menjadi realitas yang harus dihadapi. Sebagian siswa merupakan anak yang sempat putus sekolah cukup lama, sehingga kemampuan kognitifnya tidak berada pada titik awal yang sama dengan siswa seusianya.
“Input siswa memang beragam. Ada yang masih tertinggal secara akademik, bahkan belum lancar membaca. Ini yang kami kejar bertahap,” ujarnya. Tahun ini, sekolah mengusung misi “DNA Unggul” sebagai arah pengembangan. Itu dirancang untuk memetakan bakat, meningkatkan kompetensi, dan menghapus stigma sekolah bagi anak prasejahtera.
Sekolah ingin menegaskan Sekolah Rakyat adalah lembaga pendidikan berkualitas, bukan sekadar sekolah bagi keluarga miskin. Berdasarkan asesmen awal dan fase matrikulasi, sekolah menetapkan target minimal ketercapaian kompetensi pada angka 65. Angka itu lebih rendah dibanding sekolah reguler yang umumnya menetapkan standar sekitar 78.
Meski demikian, Yulianah menegaskan standar itu realistis dengan kondisi awal siswa.
“Kami tidak mengejar angka rapor semata. Tidak ada praktik katrol nilai. Jika tidak memenuhi standar, siswa bisa saja tidak naik kelas,” tegasnya.
Untuk mengatasi ketimpangan akademik, sekolah membentuk tim academic advisor atau penasihat akademik. Tim ini berfungsi layaknya wali kelas, tapi dengan tanggung jawab lebih personal dalam memantau capaian akademik siswa.
Mereka membimbing siswa berprestasi agar siap mengikuti kompetisi, sekaligus mendampingi siswa dengan capaian di bawah standar. Pendampingan dilakukan secara intensif setelah jam belajar formal, terutama selepas salat asar.
Penguatan materi difokuskan pada literasi dasar, khususnya kemampuan membaca dan pemahaman pelajaran inti. Tim Manajemen Penjamin Mutu turut dilibatkan untuk memantau kurikulum dan capaian belajar secara berkala.
Penguatan akademik juga didukung program pengayaan lain. Atas arahan Kementerian Sosial RI, Sekolah Rakyat didorong mengajarkan bahasa asing sebagai bekal kompetensi global. Selain itu, SRMP 14 Batu mulai menguji coba program One Day One English.
English Day dilakukan setiap Senin untuk membiasakan komunikasi berbahasa Inggris di lingkungan sekolah. Pembinaan karakter berjalan paralel melalui program literasi dan penguatan wawasan.
Salah satunya Jumat Manfaat Berjiwa Literasi (Jumanji) yang mengajak siswa membaca, meresensi buku, hingga menganalisis pesan moral film. Program Saga Satu (Sapa Warga Sapa Batu) juga diterapkan untuk pembelajaran kontekstual melalui kunjungan ke instansi.
Kepala Dinas Sosial Kota Batu Lilik Fariha mendukung langkah tersebut. Menurutnya, penguatan akademik dan karakter menjadi fondasi penting bagi siswa Sekolah Rakyat untuk meningkatkan mobilitas sosial di masa depan. “Dengan pendidikan yang kuat, peluang beasiswa dan pekerjaan terbuka. Harapannya bisa memutus rantai kemiskinan,” katanya.
Pihak sekolah optimistis, meski menghadapi disparitas akademik, pendampingan intensif dan kurikulum adaptif dapat mendorong siswa mengejar ketertinggalan. Target akhirnya bukan hanya kelulusan, tapi terbentuknya generasi tangguh dengan daya saing nyata. (ori/dre)
Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi
Editor : Aditya Novrian