Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Status Aset Songgoriti Ditarget Tuntas Tahun Ini, Revitalisasi Disiapkan

Aditya Novrian • Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:30 WIB
KAWASAN IKONIK: Kawasan Songgoriti gang macan menjadi lokasi paling ikonik jujugan pengunjung saat masa kejayaan lalu.
KAWASAN IKONIK: Kawasan Songgoriti gang macan menjadi lokasi paling ikonik jujugan pengunjung saat masa kejayaan lalu.

Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (20-Habis)

 

Kepastian Aset Ditarget Tuntas Tahun Ini


Setelah puluhan tahun terperangkap dalam tarik-ulur kepemilikan, Songgoriti akhirnya ditargetkan menemukan kepastian status tahun ini. Di tengah upaya komunikasi lintas daerah dan penyusunan roadmap revitalisasi, kawasan legendaris itu menanti satu hal: keberanian mengambil keputusan.

 

RORI DINANDA BESTARI

UAP air panas yang mengepul dari sumber alami masih setia menyapa udara dingin pegunungan. Namun di balik panorama yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu, suasana kawasan itu kini terasa asing, sunyi, lengang, dan seperti kehilangan jiwa.

Nama Songgoriti pernah menjadi legenda pariwisata. Perpaduan aroma belerang, sejuknya udara pegunungan, dan denyut ekonomi wisata pernah menjadikannya magnet utama di kawasan Malang Raya. Kini, jejak kejayaan itu tinggal bayang-bayang yang menempel pada bangunan tua dan vila-vila kusam.

Deretan bangunan yang mulai menua berdiri dalam diam. Catnya memudar, dindingnya retak, dan halaman yang dulu ramai kini lebih sering lengang. Songgoriti seperti kawasan yang terjebak dalam waktu. Tak benar-benar mati, tapi juga tak hidup sepenuhnya.

Di balik kondisi fisik yang kian memprihatinkan, persoalan utama yang mengunci nasib kawasan ini bukan semata kerusakan infrastruktur. Songgoriti terperangkap dalam pusaran ketidakpastian status aset antara Pemerintah Kota Batu dan Pemerintah Kabupaten Malang sejak bertahun-tahun silam.

Ketidakjelasan itulah yang membuat kawasan legendaris ini seperti anak hilang yang belum menemukan rumahnya kembali. Kini, secercah harapan mulai dirajut. Pemerintah Kota Batu menargetkan kepastian status aset Songgoriti dapat dirampungkan tahun ini.

Tak hanya menyelesaikan simpul legalitas yang kusut, pemerintah juga mulai menyiapkan peta jalan penataan kawasan secara menyeluruh. Ambisinya sederhana, tapi besar, yakni menghidupkan kembali roh Songgoriti sebagai ikon wisata Kota Batu.

Wali Kota Batu Nurochman menilai pengambilalihan atau pengelolaan Songgoriti bukanlah perkara mustahil. Menurutnya, kunci utama ada pada efektivitas komunikasi antara pihak-pihak yang selama ini terlibat dalam penguasaan aset.

“Kami sedang membangun komunikasi intensif. Ada beberapa opsi yang disiapkan, sifatnya kerja sama pengelolaan. Itu opsi minimalisnya,” ujarnya. Bagi pria yang akrab disapa Cak Nur itu, langkah Pemkot Batu bukan didorong semangat berebut wilayah.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa secara historis Kabupaten Malang memiliki ikatan kuat terhadap aset itu. Namun secara administratif, kawasan itu berada di wilayah Kota Batu. Di tengah dualisme tersebut, ia berharap kedua pihak mampu melihat persoalan secara objektif.

“Walaupun Songgoriti dikelola Kota Batu, tempatnya tetap di Indonesia. Kami melihatnya dari sisi kemanfaatan dan penyelamatan nilai sejarah yang ada di sana,” katanya. Selama ini, upaya revitalisasi kawasan Songgoriti memang berkali-kali terbentur tembok legalitas.

PT Jasa Yasa sebagai pengelola sebelumnya pernah mengeluhkan mandeknya perizinan yang membuat mereka tak bisa melakukan perbaikan fisik secara signifikan. Akibatnya, kawasan itu terus menua tanpa perawatan memadai.

Kini, di bawah kepemimpinan baru, Pemkot Batu mulai membuka kembali pintu-pintu yang lama tertutup. Nurochman berkomitmen mempelajari seluruh dokumen hukum yang melekat pada aset Songgoriti. Kepastian hak-hak PT Jasa Yasa juga akan ditelaah agar proses transisi atau kerja sama tidak menimbulkan sengketa baru.

“Revitalisasi baru bisa dilakukan kalau legalitasnya sudah jelas. Apakah nanti murni diberikan kepada Kota Batu atau sistem kerja sama karena itu dua hal yang berbeda tata kelolanya,” jelasnya. Salah satu opsi yang mengemuka adalah sistem bagi hasil antara BUMD Kabupaten Malang dengan Pemkot Batu.

Skema ini dinilai sebagai jalan tengah jika pengambilalihan penuh tidak memungkinkan. Menanggapi wacana itu, Nurochman mengaku tidak keberatan. Baginya, persoalan pembagian keuntungan adalah urusan teknis yang bisa dibicarakan kemudian. Hal terpenting adalah menyelamatkan aset yang terus mengalami degradasi.

“Tujuan utama kami adalah menyelamatkan aset yang punya nilai historis tinggi. Maka kuncinya kebijakan yang jelas,” tuturnya. Seiring rencana penyelesaian status aset, ide-ide kreatif untuk masa depan Songgoriti mulai bermunculan. Dinas Pariwisata Kota Batu sempat mengusulkan konsep Kampung Budaya sebagai arah revitalisasi kawasan.

Konsep ini dinilai selaras dengan sejarah panjang Songgoriti yang memiliki keterkaitan erat dengan situs candi dan sumber mata air purba. Jika terwujud, Songgoriti tidak hanya akan dihidupkan sebagai objek wisata, tapi juga sebagai ruang kebudayaan dan pelestarian sejarah.

Dengan berbagai langkah yang tengah dirintis, Nurochman berharap komunikasi lintas daerah dan kejelasan legalitas dapat dituntaskan tahun ini. Ia bahkan berencana mengagendakan pertemuan khusus dengan pihak PT Jasa Yasa dalam waktu dekat untuk membahas langkah konkret kerja sama.

 Baca Juga: Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (18), Menunggu Janji Investasi

“Semoga bulan ini kami bisa duduk satu meja lagi. Intinya, kami ingin Songgoriti kembali berjaya,” katanya. Selama puluhan tahun, Songgoriti hidup dalam ketidakpastian. Kini, harapannya sederhana yakni kepastian. (*/dre)

 

Disunting kembali oleh : Anna Tasya Enzelina

Editor : Aditya Novrian
#songgoriti batu #songgoriti #kotabatu