Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Jelang Valentine, Pesanan Bunga Potong Naik Dua Kali Lipat

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 13 Februari 2026 | 10:07 WIB
PERMINTAAN MELONJAK: Petani bunga di Desa Gunungsari sibuk mengemas pesanan di tokonya kemarin (12/2).
PERMINTAAN MELONJAK: Petani bunga di Desa Gunungsari sibuk mengemas pesanan di tokonya kemarin (12/2).

BUMIAJI - Perayaan Hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari besok mendongkrak permintaan bunga potong di Kota Batu. Lonjakan pesanan bahkan mencapai 100 persen atau dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Momen ini menjadi musim panen bagi petani dan pelaku florist di kawasan sentra bunga Bumiaji.

Peningkatan permintaan tersebut dirasakan langsung oleh Handoko, pemilik Yudhan Florist di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Ia mengaku harus bekerja ekstra untuk memenuhi pesanan mawar yang mengalir deras dalam beberapa hari terakhir.

Pada hari normal, pelanggan biasanya memesan sekitar 1.000 tangkai mawar. Namun menjelang Valentine, jumlah pesanan melonjak hingga 2.000 tangkai dalam sekali order. “Kalau mendekati Valentine, permintaan selalu naik tajam seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Handoko, kemarin (12/2).

Mayoritas pengiriman ditujukan ke Bali serta sejumlah kota di Pulau Jawa. Bunga-bunga tersebut digunakan untuk buket hadiah, dekorasi perayaan, hingga kebutuhan ritual keagamaan.

Di kebun miliknya, Handoko membudidayakan beragam varian mawar, mulai merah, putih, kuning, oranye, hingga merah muda. Namun, di balik potensi keuntungan yang meningkat, cuaca ekstrem menjadi tantangan utama. Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa pekan terakhir menghambat proses mekarnya bunga.

Kondisi itu memicu kelangkaan stok di tingkat petani dan berdampak pada fluktuasi harga. Untuk menutup biaya operasional yang meningkat selama musim hujan, Handoko terpaksa menaikkan harga jual. “Biasanya sekitar Rp1 ribu per tangkai, sekarang bisa sampai Rp3 ribu. Meski naik, tetap dibeli karena kebutuhan mendesak,” katanya.

Ia memprediksi kenaikan harga hanya berlangsung singkat, sekitar empat hari menjelang Valentine. Setelah 14 Februari, harga bunga diperkirakan kembali stabil. “Di atas tanggal itu biasanya sudah landai lagi,” ujarnya.

Tren serupa juga dirasakan Samsul Hadi, pengelola florist di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Meski tidak berfokus pada mawar, komoditas pendukung seperti dedaunan hias dan hortensia mengalami peningkatan permintaan signifikan.

“Biasanya pengiriman sekitar 10 koli, sekarang bisa sampai 20 koli,” kata Samsul. Berbeda dengan mawar yang mengalami lonjakan harga, Samsul memilih menjaga harga tetap stabil. Daun silver dollar dijual Rp40 ribu per ikat, jenis tusuk sate Rp50 ribu, sementara hortensia lokal Rp2 ribu per tangkai dan hortensia Holland Rp5 ribu per tangkai.

Menurutnya, tanaman yang diambil daunnya relatif lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dibandingkan bunga. Pada musim hujan, tanaman cenderung menghasilkan tunas muda (trubus) ketimbang bunga. “Kalau musim hujan seperti sekarang, bunga justru sedikit. Yang banyak tumbuh malah tunas,” jelasnya.

Bagi petani bunga di Bumiaji, momen Valentine menjadi berkah tahunan selain musim hajatan pasca-Lebaran dan akhir tahun. Kendati cuaca kurang bersahabat, tingginya permintaan menunjukkan produk florikultura Kota Batu tetap menjadi primadona untuk merayakan hari kasih sayang. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#Bumiaji #florist #kota batu #perayaan hari valentine