BATU - Penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Batu sepanjang 2025 belum memenuhi target. Dari target nasional sebesar Rp3 miliar, dana yang berhasil dikumpulkan hanya sekitar Rp1,6 miliar atau setara 53,3 persen.
Mayoritas dana tersebut bersumber dari aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Batu serta Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL). Kepala Pelaksana Baznas Kota Batu Agus Salim mengakui, hingga kini basis penghimpunan masih sangat bergantung pada ASN
“Potensi utama memang berasal dari ASN. Jumlahnya sekitar 1.500 orang sesuai surat edaran yang berlaku,” ujarnya. Ia menjelaskan, kewajiban zakat diterapkan bagi ASN yang telah memenuhi nisab sesuai penghasilan masing-masing. Sementara infak dan sedekah ditetapkan berdasarkan golongan kepangkatan.
Golongan I sebesar Rp15 ribu per bulan, golongan II Rp25 ribu, serta golongan III hingga IV yang belum mencapai nisab berkisar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per bulan. Secara rinci, sepanjang Januari-Desember 2025, dana zakat yang terhimpun mencapai Rp566,9 juta. Infak dan sedekah menyumbang Rp808,3 juta, sedangkan DSKL sebesar Rp239,3 juta.
Pola penghimpunan tercatat fluktuatif dari bulan ke bulan. Capaian tertinggi terjadi pada Oktober dengan total Rp326,4 juta, didorong masuknya DSKL sebesar Rp150 juta. Lonjakan juga tercatat pada Juli dengan penghimpunan Rp272,2 juta, terutama dari sektor zakat.
Ketua Baznas Kota Batu Abu Sufyan menilai, meski target belum tercapai, kinerja penghimpunan tahun ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, total dana ZIS yang terhimpun hanya sekitar Rp1,2 miliar.
“Artinya ada kenaikan sekitar Rp400 juta. Tahun ini juga mendapat dukungan transfer dari Baznas Provinsi, berbeda dengan tahun lalu yang murni dari penghimpunan lokal,” jelasnya.
Dana ZIS tersebut telah disalurkan ke berbagai program sosial.
Mulai dari bantuan bagi yatim, dhuafa, penyandang disabilitas, masyarakat kurang mampu, bedah rumah, modal usaha, hingga bantuan pendidikan untuk siswa SMA dan mahasiswa. Termasuk pula dukungan bagi korban bencana di Aceh dan Sumatra.
Namun demikian, Abu Sufyan mengakui partisipasi masyarakat umum masih sangat minim. “Dalam satu bulan, hanya ada satu warga non-ASN yang rutin menyalurkan ZIS melalui Baznas Kota Batu,” ungkapnya.
Kondisi itu menjadi catatan penting bagi Baznas dan pemerintah daerah. Ketergantungan pada ASN dinilai belum cukup untuk mengejar target nasional. Tanpa perluasan basis muzaki ke masyarakat umum dan sektor non-pemerintah, capaian ZIS dikhawatirkan akan terus tertahan di bawah target. (dia/dre)
Editor : Aditya Novrian