Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (4), UMKM Bertahan Di Tengah Sepi

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 29 Januari 2026 | 09:32 WIB
LENGANG: Jalanan dan deretan kios yang sempat bangkit pada 2016-2019 lalu kini tampak sepi.
LENGANG: Jalanan dan deretan kios yang sempat bangkit pada 2016-2019 lalu kini tampak sepi.

KIOS-KIOS di kawasan wisata Songgoriti tampak seperti barisan bangunan tanpa penghuni. Pintu besi tertutup rapat, sebagian berkarat. Debu menempel di etalase kosong. Dari puluhan kios yang berjajar, hanya dua yang masih membuka lapak. Selebihnya menyerah pada waktu dan keadaan.

Di salah satu sudut, Mulyono, 68, masih setia berdiri di balik kompor sederhana. Sejak 1987, ia menjual nasi pecel dan aneka makanan. Tangannya lincah menyiapkan piring, meski pembeli tak kunjung datang. “Sekarang beda jauh. Masaknya sedikit saja,” katanya pelan.

Mulyono tak lagi berani menyiapkan stok seperti dulu. Nasi, lauk, dan sayur ia kurangi drastis. Pendapatannya menyusut, meski ia enggan menyebut angka. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik yang tak pernah benar-benar pulih. 

“Sejak itu tidak pernah seramai dulu,” ujarnya. Ingatan Mulyono melompat ke masa ketika Songgoriti masih penuh sesak. Bus pariwisata berderet, parkir meluber hingga jalan raya. Pengunjung memenuhi pasar, pemandian air panas, hingga kawasan candi.

Ia sering kewalahan melayani pembeli. Dagangan selalu habis sebelum sore. Kini, cerita itu hanya hidup di kepala. Namun, Mulyono tetap membuka lapaknya sejak pagi hingga sore. Pada malam Minggu, ia bertahan hingga tengah malam.

“Kadang pulang jam dua belas malam,” katanya, seolah menantang sepi yang tak juga pergi.

Bagi warga sekitar, sepinya Songgoriti bukan sekadar dampak pandemi. Herman, salah satu warga, menilai kawasan ini kehilangan arah.

Ia menyebut Songgoriti stagnan. Wisata ini lebih tampak tak mampu bersaing di tengah gempuran destinasi baru di Kota Batu. “Tidak ada pembaruan. Wahana ya begitu-begitu saja,” ujarnya sambil duduk di kios kosong.

Menurut Herman, setiap pergantian kepemimpinan selalu diikuti pergantian pengelola. Namun perubahan hanya berhenti di struktur, bukan hasil. Kawasan pasar dan wisata dibiarkan tanpa perawatan yang memadai.

Ironisnya, sekitar 2016 hingga 2019, Songgoriti sempat mencicipi masa kebangkitan. Kunjungan wisatawan meningkat. Parkir bus dan kendaraan bahkan meluber hingga jalan Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu.

“Itu masa terakhir Songgoriti benar-benar hidup,” kenangnya. Kini, Herman menyebut Songgoriti memasuki fase konflik. Konflik yang tidak selalu tampak di permukaan. Namun, terasa dalam ketidakjelasan pengelolaan dan minimnya kehadiran pemerintah.

Satu per satu pedagang berhenti karena tak sanggup bertahan. Ia menduga dialog antarpemerintah sudah berlangsung. Namun, hasilnya belum menyentuh kebutuhan di lapangan. Kios tetap kosong. Wahana tetap usang. Pedagang tetap menunggu.

“Kalau begini terus, ya habis,” katanya singkat. Di tengah situasi itu, harapan masih disimpan. Herman berharap ada titik temu yang jelas. Mulai siapa yang mengelola, siapa yang bertanggung jawab, dan ke mana arah Songgoriti akan dibawa.

Tanpa itu, kawasan ini hanya akan menjadi etalase kenangan. Bagi Herman dan segelintir pedagang lain, Songgoriti bukan sekadar tempat usaha. Ia adalah ruang hidup yang telah mereka rawat puluhan tahun.

Selama kompor masih menyala dan pintu kios belum tertutup permanen, mereka akan tetap bertahan menjaga api kecil di tengah kawasan wisata yang kini sunyi. Ia akan tetap menunggu Songgoriti menemukan jalan pulangnya kembali. (*/dre)

Editor : Aditya Novrian
#kios sepi peminat #kota batu #wisata songgoriti