BATU - Komposisi Calon Jemaah Haji (CJH) Kota Batu tahun ini mencerminkan tantangan pelayanan haji yang semakin kompleks. Dari total 129 CJH yang dijadwalkan berangkat, satu jemaah lansia ditetapkan mendapat pendampingan khusus. Sementara 11 jemaah lainnya masuk skema penggabungan mahram demi aspek keamanan dan kenyamanan ibadah.
Kepala Kantor Kementerian Haji (Kemenhaj) Kota Batu, Basuki Rahmat, mengatakan jemaah lansia yang membutuhkan pendampingan intensif adalah Dewi Marijjah, 84, warga Kelurahan Sidomulyo. Faktor usia lanjut dan kondisi fisik menjadi pertimbangan utama penetapan pendamping khusus.
“Pendampingan diberikan agar jemaah lansia tetap aman, nyaman, dan mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji,” ujarnya. Pendampingan mencakup aspek mobilitas, pemantauan kesehatan, hingga asistensi selama pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Skema ini menjadi bagian dari mitigasi risiko bagi jemaah rentan, khususnya lansia.
Basuki menyebut jumlah CJH lansia dari tahun ke tahun kian meningkat. Ia menambahkan, seluruh CJH asal Kota Batu telah menuntaskan kewajiban administrasi. Sebanyak 129 jemaah telah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) hingga batas akhir pelunasan tahap kedua pada 9 Januari lalu.
Selain pendampingan lansia, penggabungan mahram juga diterapkan pada 11 CJH. Skema ini memungkinkan jemaah yang memiliki hubungan keluarga dekat berada dalam satu kelompok terbang (kloter). “Sebelas jemaah tersebut memang terjadwal berangkat tahun ini dan digabungkan karena memiliki hubungan mahram,” jelas Basuki.
Penggabungan mahram umumnya melibatkan pasangan suami-istri, orang tua dan anak, atau saudara kandung. Kebijakan ini bertujuan menjaga keamanan, memudahkan koordinasi, serta memberikan dukungan psikologis selama menjalankan ibadah. Basuki pun mengingatkan seluruh CJH agar mempersiapkan diri secara menyeluruh. (dia/dre)
Editor : Aditya Novrian