Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Bumiaji Kota Batu Kembali Banjir setelah Tiga Sungai Meluap

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 6 Januari 2026 | 09:30 WIB
TINJAU LANGSUNG: Wali Kota Batu Nurochman meninjau kaawasan banjir luapan di Dusun Beru, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji pada Minggu petang lalu (4/1).
TINJAU LANGSUNG: Wali Kota Batu Nurochman meninjau kaawasan banjir luapan di Dusun Beru, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji pada Minggu petang lalu (4/1).

BUMIAJI – Banjir luapan kembali menyingkap persoalan serius pengelolaan lingkungan di Kota Batu. Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bumiaji pada Minggu sore lalu (4/1) menyebabkan tiga sungai meluap secara bersamaan. Akibatnya, jalan tergenang lumpur dan dua rumah warga terdampak.

Luapan terjadi di Sungai Paron, Desa Bumiaji, Sungai Ledok, Desa Bulukerto, serta Sungai Sengonan, Desa Sumbergondo. Di Bulukerto, air menggenangi dua rumah warga. Sementara di Sungai Sengonan, luapan air membawa lumpur setebal sekitar 15 sentimeter yang menutup badan jalan sepanjang kurang lebih 200 meter.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pemerintah Kota Batu langsung melakukan penanganan darurat. Wali Kota Batu, Nurochman, turun ke lokasi dan memastikan penanganan awal terhadap warga terdampak telah dilakukan. “Di Bulukerto terdapat dua rumah tergenang dan sudah kami tangani. Ini bukan kejadian biasa dan perlu perhatian serius,” ujarnya.

Ia menjelaskan, banjir di sejumlah titik dipicu meluapnya sungai yang tersumbat material berat. Di Sungai Paron, misalnya, aliran air terhambat tumpukan bambu, kayu, dan sampah yang terbawa dari hulu. Kondisi serupa juga ditemukan di sungai lain yang meluber hingga ke jalan raya.

Menurut Nurochman, peristiwa ini mengindikasikan persoalan lingkungan yang tidak bisa diselesaikan secara parsial. Karena itu, ia meminta dinas terkait melakukan pemetaan menyeluruh, termasuk pemantauan wilayah hulu sungai menggunakan citra udara.

“Foto udara untuk pemetaan sungai dan kanal-kanal banjir eksisting menjadi rujukan penting. Dari sana kita bisa melihat kerusakan dan menentukan intervensi yang tepat,” tegas wali kota yang akrab disapa Cak Nur tersebut.

Hasil pemetaan udara itu, lanjut dia, akan menjadi dasar kebijakan penanganan jangka menengah dan panjang. Mulai dari evaluasi kapasitas sungai, penambahan kanal, hingga pembangunan sudetan untuk memecah debit air saat hujan ekstrem.

Namun demikian, Cak Nur menegaskan solusi teknis semata tidak akan cukup jika persoalan ekosistem terus diabaikan. Menurutnya, sedimentasi lumpur dan material kayu yang terbawa banjir menunjukkan adanya gangguan serius di kawasan hulu.

“Sebanyak apa pun kanal dan sudetan tidak akan mampu menampung jika air membawa lumpur, sampah, dan potongan kayu. Ini persoalan keseimbangan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti alih fungsi lahan sebagai faktor yang memperparah banjir lumpur.

Berkurangnya tutupan hutan membuat daya serap tanah menurun dan material mudah terbawa arus saat hujan lebat. Karena itu, ia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kawasan hulu sungai.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah. Kami membutuhkan komitmen masyarakat untuk menjaga hutan dan daerah resapan agar risiko bencana bisa ditekan ke depan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu Suwoko menyampaikan telah menuntaskan proses kerja bakti pembersihan sedimentasi akibat banjir luapan tersebut. Pengerjaan dilakukan melibatkan lintas sektor dan masyarakat setempat. “Untuk mitigasi, kami juga melakukan pemasangan box culvert untuk memperlancar aliran sungai dan mengurangi potensi banjir susulan,” pungkasnya. (ori/dre)

Editor : Aditya Novrian
#bencana alam #Luapan #banjir #kota batu