BATU - Pasar Wisata Songgoriti kembali menjadi potret kusut pengelolaan destinasi wisata lintas kewenangan. Meski berada di wilayah administratif Kota Batu, pasar yang kian rusak itu tak kunjung tertangani karena pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Kabupaten Malang. Akibatnya, aktivitas ekonomi merosot.
Pedagang terpaksa bertahan dalam kondisi serba terbatas. Sementara, pemerintah daerah nyaris tak berdaya untuk melakukan intervensi. Itulah mengapa pelaku wisata, khususnya pedagang di Pasar Wisata Songgoriti harus gigit jari di tengah lonjakan jumlah wisatawan di tengah momen libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini.
Peningkatan jumlah kunjungan dinilai tak seberapa bila dibandingkan dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Kota Batu sejak periode libur Nataru. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Malang di lapangan, kerusakan fisik pasar tampak terjadi hampir di seluruh area. Struktur kayu lapuk dan banyak atap berlubang sehingga menyebabkan kebocoran.
Alhasil beberapa titik jadi langganan genangan air setiap kali turun hujan. Di beberapa bagian, bangunan terlihat nyaris ambruk. Hal itu sekaligus memunculkan risiko keselamatan bagi pedagang dan pengunjung. Dari sekitar 150 kios, hanya sekitar 15-25 kios yang masih aktif beroperasi. Aktivitas perdagangan terkonsentrasi di bagian depan pasar.
Semakin ke dalam, deretan kios kosong dan tak terawat mendominasi pemandangan. Itu mencerminkan melemahnya denyut ekonomi di kawasan yang dahulu menjadi salah satu ikon wisata Kota Batu.
Karmanu, pedagang gerabah, mengaku kondisi bangunan sangat memengaruhi minat pengunjung. Saat hujan turun, air kerap masuk ke kios akibat atap bocor dan konstruksi bangunan yang rapuh.
“Pengunjung jadi enggan mampir. Kondisinya memang tidak nyaman,” ujarnya. Menurut Karmanu, kerusakan pasar telah berlangsung sekitar dua tahun terakhir tanpa penanganan berarti. Ia dan pedagang lain memilih bertahan agar pasar tidak sepenuhnya mati.
“Kalau semua tutup, pasar ini benar-benar hilang,” katanya. Keluhan senada disampaikan Arlikah, pedagang buah. Ia mengatakan, setiap hujan turun pedagang harus sigap menyelamatkan dagangan dari tempias air. “Harus buru-buru menutup lapak atau memindahkan barang supaya tidak rusak,” ujarnya.
Kondisi lapangan menunjukkan hanya sekitar 15 pedagang yang bertahan berjualan di bagian depan pasar. Sementara kios di bagian dalam hampir sepenuhnya kosong. Situasi ini kian menegaskan menurunnya daya tarik Pasar Wisata Songgoriti, dengan kerusakan fisik sebagai faktor dominan yang tak kunjung diatasi.
Meski demikian, Sumani, pedagang lain, mengaku tetap bertahan dengan harapan pasar kembali hidup. Ia menyebut pada momen libur seperti saat ini masih ada rombongan wisatawan yang singgah. “Kadang satu dua bus saat libur Nataru seperti ini masih berhenti. Pasar ini kan sudah dikenal sejak dulu,” ungkapnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Batu mengakui keterbatasan ruang gerak dalam menangani persoalan tersebut. Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menegaskan kewenangan pengelolaan Pasar Wisata Songgoriti sepenuhnya berada di bawah Pemerintah Kabupaten Malang. Pemkot Batu hanya dapat melakukan koordinasi dan menyampaikan aspirasi.
“Sejauh ini komunikasi terus dilakukan agar keberlanjutan pasar lebih baik. Syukur-syukur ke depan bisa dikelola Kota Batu,” ujarnya. Kondisi serupa juga tampak di destinasi wisata lain di kawasan Songgoriti seperti Wisata Tirtanirwana yang juga terlihat sepi. Kendati objek wisata itu masih menunjukkan aktivitas terbatas.
Petugas tetap berjaga di loket dan sesekali pengunjung masih berdatangan. Perawatan dinilai cukup, tapi minim inovasi wahana. Itulah yang banyak dikeluhkan pedagang sekitar. Dia juga menegaskan pada destinasi wisata yang dikelola swasta, peran pemerintah terbatas pada pemberian arahan dan rekomendasi. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho