Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Omzet Pelaku Wisata di Kota Batu Naik 40 Persen Pelaku

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 24 Desember 2025 | 16:27 WIB
Ilustrasi Wisatawan
Ilustrasi Wisatawan

BATU - Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kembali menjadi harapan besar bagi pelaku usaha pariwisata di Kota Batu. Lonjakan kunjungan wisatawan diprediksi berdampak langsung pada peningkatan pendapatan. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, kenaikan omzet pedagang bisa mencapai rata-rata 40 persen dibandingkan hari biasa.

General Manager Pusat Oleh-oleh Buah Tangan, Didik Sulistyo, mengungkapkan geliat wisata sudah mulai terasa sejak awal pekan ini. Arus kendaraan berpelat luar daerah terlihat mendominasi kawasan tokonya di Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Junrejo. “Per jam bisa hampir 10 mobil yang mampir,” ujarnya. 

Menurut Didik, terdapat pergeseran pola kunjungan wisatawan tahun ini. Jika sebelumnya didominasi rombongan pelajar, kini pembeli lebih banyak berasal dari keluarga kecil yang datang menggunakan kendaraan pribadi. Dampaknya, meski kunjungan meningkat, lonjakan omzet belum sepenuhnya terasa signifikan.

Grafis Lonjakan Omzet Pelaku Wisata
Grafis Lonjakan Omzet Pelaku Wisata

Meski demikian, ia tetap optimistis. Jika kondisi normal, omzet saat libur Nataru bisa melonjak hingga 80 persen. Namun, melihat tren kunjungan tahun ini, kenaikan realistis diperkirakan berada di kisaran 40 persen saja. “Masih sangat potensial sampai puncak liburan,” kata Didik.

Faktor lokasi toko yang strategis di jalur utama wisata dinilai menjadi salah satu penopang penjualan. Ditambah berbagai promo yang ditawarkan menjelang Nataru membuat daya tarik belanja wisatawan semakin meningkat. Rata-rata transaksi berada di kisaran Rp150-350 ribu per kunjungan, dengan nilai belanja per orang sekitar Rp200-250 ribu.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, Didik telah menyiapkan stok barang sejak satu bulan lalu. Produk yang paling diminati antara lain keripik buah dan sari apel. Pihaknya juga melayani pengantaran langsung ke penginapan. “Kerja sama dengan agen perjalanan turut dimaksimalkan guna mendongkrak omzet selama libur panjang akhir tahun,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Alun-Alun Kota Wisata Batu. Ketua Paguyuban PKL Alun-Alun Kota Wisata Batu, Puspita Herdysari, menyebut setiap momentum Nataru rata-rata pedagang mengalami kenaikan omzet harian sebesar 30-40 persen, tergantung jenis dagangan.

“PKL jajanan seperti cilok, sempol, dan gorengan kisaran omzetnya Rp300-400 ribu per hari. Untuk makanan dengan harga lebih tinggi seperti lok-lok atau seafood bisa tembus Rp1-2 juta,” jelas perempuan yang akrab disapa Pipit itu. 

Namun hingga pekan ini, lonjakan penjualan belum terlalu terasa signifikan. Faktor cuaca yang kurang bersahabat menjadi salah satu kendala. Hujan dan kondisi area yang becek membuat wisatawan enggan berlama-lama menikmati kuliner di ruang terbuka.

Meski begitu, para PKL berupaya mengurangi ketidaknyamanan pengunjung dengan menyediakan pelindung tambahan seperti galvalum dan payung secara swadaya. Pipit juga memastikan tidak ada praktik harga tidak wajar selama libur Nataru. Mayoritas pedagang telah memasang daftar harga permanen di gerobak masing-masing.

“Prediksi kami, lonjakan pembeli baru akan terasa setelah 25 Desember,” ujarnya. Sebagai kawasan favorit wisatawan, Alun-Alun Kota Wisata Batu diyakini tetap menjadi magnet utama yang ikut mengerek pendapatan pedagang. Pipit berharap cuaca Kota Batu ke depan lebih bersahabat agar lonjakan kunjungan wisata benar-benar berdampak maksimal. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#pkl #kota batu #Alun Alun Kota Batu #nataru