Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

High Season, Harga Daging Sapi di Kota Batu Stabil

Fajar Andre Setiawan • Senin, 22 Desember 2025 | 16:53 WIB
PERMINTAAN TETAP: Salah seorang penjual daging sapi di Pasar Induk Among Tani melayani pesanan pembeli kemarin (21/12).
PERMINTAAN TETAP: Salah seorang penjual daging sapi di Pasar Induk Among Tani melayani pesanan pembeli kemarin (21/12).

BATU - Lonjakan harga sejumlah komoditas menjelang akhir tahun tidak terjadi pada daging sapi di Kota Batu. Memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga daging sapi justru cenderung stagnan. Di Pasar Induk Among Tani Batu, harga masih bertahan di kisaran Rp125 ribu per kilogram.

Kondisi tersebut dipicu permintaan yang relatif rendah. Salah seorang pedagang daging sapi, Reihan Hadani, mengatakan momentum Nataru tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan konsumsi. Dalam sehari, penjualannya tetap di kisaran 7-8 kilogram. Angka itu jauh dari ekspektasi musim liburan.

“Harga sudah naik dari Rp120 ribu ke Rp125 ribu sekitar sebulan lalu. Setelah itu tidak bergerak lagi,” ujarnya kemarin (21/12). Menurut Reihan, daging sapi bukan pilihan utama masyarakat saat Nataru. Berbeda dengan komoditas pangan lain seperti daging ayam dan telur. Lonjakan permintaan daging sapi hanya terjadi pada momen Idul Fitri.

Pada periode tersebut, harga daging sapi tembus Rp130-140 ribu per kilogram. Sebab, pembelian bisa meningkat hingga tiga kali lipat dari hari biasa. Dengan tren permintaan yang landai, Reihan memprediksi harga daging sapi tidak akan naik hingga pergantian tahun. Bahkan, penurunan harga diprediksi terjadi lebih cepat dari komoditas lain.

“Kemungkinan minggu pertama Januari sudah kembali normal,” katanya. Pedagang lainnya, Didik Listiantoro, menilai harga daging sapi pada Nataru tahun ini relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, angka penjualan justru menurun. “Dulu bisa lebih dari 10 kilogram per hari, sekarang di bawah itu,” ungkapnya.

Didik menduga melemahnya daya beli masyarakat turut memengaruhi pola konsumsi. Pembeli cenderung beralih ke sumber protein lain seperti daging ayam dan ikan, yang harganya lebih terjangkau meski turut terdampak inflasi. “Sekarang mayoritas pembeli justru dari restoran atau warung. Konsumen umum semakin jarang,” pungkasnya. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#kota batu #Pasar Induk Among Tani #harga daging #nataru