BATU - Rencana merger sembilan SD negeri di Kota Batu memasuki tahap krusial. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu memastikan proses penggabungan sekolah itu berlanjut dan ditarget tuntas pada 2026. Tahun depan, sembilan SD tersebut akan dilebur menjadi empat sekolah baru sebagai upaya penataan satuan pendidikan.
Kebijaka merger diambil lantaran jumlah peserta didik di sejumlah sekolah tersebut dinilai tak lagi ideal karena terlalu sedikit. Sembilan sekolah yang akan dimerger itu meliputi SDN Sisir 3, Sisir 4, Sisir 6; SDN Songgokerto 1 dan Songgokerto 2; SDN Oro-Oro Ombo 1 dan Oro-Oro Ombo 2; serta SDN Sumberejo 1 dan Sumberejo 2.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Kota Batu Daud Andoko mengatakan tahapan awal penggabungan dipastikan rampung tahun ini. Saat ini pihaknya tengah menuntaskan asesmen terhadap seluruh kepala sekolah.
“Jika pelantikan kepala sekolah bisa dilakukan bulan ini, proses merger dapat dipercepat,” ujarnya, kemarin. Daud mengakui target awal penyelesaian merger sebenarnya ditetapkan tahun ini. Namun prosesnya molor lantaran jumlah sekolah yang cukup banyak.
Selain itu, langkah birokratis yang panjang perlu dilalui. Termasuk rotasi kepala sekolah yang memimpin sekolah-sekolah terdampak. “Semua kepala sekolah yang masuk skema merger berstatus definitif, sehingga penataan jabatan memerlukan proses lama,” jelasnya.
Setelah penataan manajerial, Daud akan melakukan sinkronisasi data pokok pendidikan (Dapodik) melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP). Langkah itu mencakup pemindahan data siswa, guru, tenaga kebersihan, hingga aset ke satuan pendidikan baru.
“Estimasi kami, sinkronisasi selesai pada Mei, bertepatan dengan masa awal tahun ajaran baru,” kata Daud. Sejumlah kepala sekolah menilai merger sebagai keputusan strategis untuk pemerataan kualitas layanan pendidikan.
Kepala SDN Oro-Oro Ombo 2 Budiono mengaku menjadi salah satu pihak yang mendorong percepatan penggabungan sekolah. Ia mencatat pendaftar di sekolahnya melonjak drastis, sementara SDN Oro-Oro Ombo 1 justru kekurangan murid.
“Sebaran siswa sudah tidak ideal. Merger bisa menjadi solusi efektif,” ujarnya. Tahun ajaran mendatang, SDN Oro-Oro Ombo 2 mencatat 60 siswa inden, sementara daya tampung sekolah hanya tiga rombongan belajar.
“Itu belum termasuk pendaftar saat hari H. Biasanya langsung penuh,” kata Budiono. Ia menambahkan setelah merger, pihaknya menyiapkan skema zonasi internal. Yakni siswa kelas 1-3 akan ditempatkan di gedung SDN Oro-Oro Ombo 1.
Hal itu dipilih lantaran lokasinya lebih aman karena jauh dari jalan raya. Sedangkan, siswa kelas 4-6 akan menempati gedung SDN Oro-Oro Ombo 2. Skema itu diharapkan meningkatkan efektivitas dan keamanan pembelajaran. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho