Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Senyum Petani di Kota Batu Nikmati Hasil Panen Melimpah Berkat Pembinaan Bank Indonesia Malang

A. Nugroho • Sabtu, 29 November 2025 | 16:59 WIB
PENEN BESAR: Sejumlah petani penggarap lahan kentang bersyukur menerima banyak ilmu pertanian dari binaan BI Malang, karena terbukti ampuh meningkatkan perekonomian mereka sebagai petani sayuran.
PENEN BESAR: Sejumlah petani penggarap lahan kentang bersyukur menerima banyak ilmu pertanian dari binaan BI Malang, karena terbukti ampuh meningkatkan perekonomian mereka sebagai petani sayuran.

KOTA BATU - Petani mitra binaan Bank Indonesia (BI) Malang di Kota Batu sukses meningkatkan panen hingga dua kali lipat. Itu berkat rutinitas mereka ikut pelatihan dan business matching yang disediakan BI Malang. Kini, sistem pertanian dan pengolahan lahan mereka lebih modern dan produktivitasnya bisa maksimal.

Salah satu gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang rutin dibina BI Malang adalah Gapoktan Mitra Arjuna, Desa Giripurno. Mereka sudah dibina sejak tahun 2010. Total ada 25 kelompok tani (Poktan) yang dinaungi mereka dengan hasil panen yang memuaskan.

Ketua Gapoktan Mitra Arjuna Luki Budiarti menuturkan petani sangat bersyukur diberi banyak ilmu pertanian. Sebab ilmu itu terbukti ampuh meningkatkan perekonomian mereka. “Kami juga menjadi lebih semangat belajar dan berinovasi untuk lebih memaksimalkan hasil panen,” ujarnya.

Pembinaan yang diberikan BI Malang memang sangat menyeluruh. Mulai mencari akar masalah produktivitas pertanian di Kota Batu yang tidak optimal. Rupanya itu terjadi karena mayoritas petani masih menggunakan bibit yang asalan.

Bahkan BI Malang menggandeng akademisi dari Universitas Brawijaya untuk menyelesaikan akar masalah itu. Lalu bersama petani studi banding hingga ke Jawa Tengah untuk mencari solusi kepada petani yang dinilai sukses. “Waktu itu komoditas yang paling rendah produktivitasnya adalah kentang, akhirnya kami diarahkan memakai bibit standar agar hasil panen lebih maksimal,” ujar Ketua Poktan Tani Maju Imam Hanafi.

Namun saat itu bibit standar harganya cukup mahal. Dua kali lipat dari bibit asalan. BI Malang memberi solusi dengan mempertemukan bank penyalur kredit dengan para petani untuk tambahan modal. Masalah terjadi lagi, bank tidak bisa memberi kredit kalau pemasaran hasil panen tidak stabil. “Jadi kami juga ditemukan dengan eksportir, hingga sekarang bisa rutin ekspor sampai ke Singapura,” ujar Imam.

Sejak saat itu, baik pengelolaan, pembiayaan, hingga pemasaran berjalan lancar dan optimal. Produktivitas kentang yang awalnya hanya 17 ton per hektar sekarang meningkat sampai rata-rata 30 ton per hektar. Namun juga ada petani yang panennya mencapai 60 ton per hektar.

Menurut Imam, sebelum dibina dengan benar, mayoritas petani masih terlena dengan kesuburan tanah di Kota Batu. Asal tanam bisa menumbuhkan hasil tani, sudah dianggap untung. Padahal potensi itu bisa dimaksimalkan sampai hasil panen optimal. (aff/mas)

Editor : A. Nugroho
#panen #bi malang #batu #petani