BATU - Pelaku usaha perhotelan di Kota Batu bersiap menyambut momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebagai puncak perolehan pendapatan akhir tahun. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu menargetkan tingkat okupansi bisa menembus 90 persen, seiring prediksi lonjakan kunjungan wisatawan.
Ketua PHRI Kota Batu Sujud Hariadi menilai target tersebut masih sangat realistis bila melihat pola kunjungan tahun sebelumnya. Bahkan sejumlah hotel sempat mencatat okupansi 100 persen. Terutama pada periode 24-31 Desember menjelang tahun baru.
“Saat ini memang belum tampak lonjakan pemesanan. Baru satu atau dua tamu yang booking. Biasanya wisatawan baru melakukan reservasi mendekati libur panjang,” ujarnya.
Menurut dia, gelombang pemesanan diperkirakan mulai bergeser pada 11-13 Desember.
Pada rentang itu pula kenaikan tarif kamar alias room rate biasanya mulai terjadi. Beberapa hotel sudah menaikkan harga hingga dua kali lipat dari hari biasa. Misalnya, tarif kamar Rp700 ribu per malam bisa naik menjadi Rp1,5–2 juta pada masa Nataru.
Namun, Sujud tak menampik adanya kekhawatiran terkait melemahnya daya beli masyarakat tahun ini. Ditambah lagi perayaan tahun baru jatuh pada hari efektif kerja sehingga wisatawan diperkirakan akan mempersingkat durasi menginap.
“Yang paling mungkin full booked hanya pada 30–31 Desember,” kata Direktur Utama PT Selecta itu. Ia menambahkan pola kunjungan tahun ini juga menunjukkan wisatawan cenderung datang tanpa reservasi.
Mereka menganggap masih banyak kamar tersisa akibat penurunan kunjungan. Selain itu, sebagian wisatawan memilih vila yang tidak tercatat dalam data okupansi resmi PHRI. “Ini membuat angka okupansi di hotel sulit diprediksi secara pasti,” ujarnya.
Meski demikian, pelaku usaha perhotelan tetap berharap momentum Nataru mampu mengerek kembali perputaran ekonomi pariwisata Kota Batu yang sepanjang tahun ini bergerak fluktuatif. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian