BATU - Belum seminggu beroperasi, antrean penumpang Bus Trans Jatim di Terminal Batu membeludak. Antrean tampak memanjang sampai sekitar 70 meter dan meluber ke area luar ruang tunggu kemarin (23/11). hal itu menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk menjajal layanan transportasi baru ini.
Warga Desa Giripurno, Dian Rubianti mengatakan dia dan dua putrinya rela menunggu berjam-jam demi mencoba Bus Trans Jatim. “Kami sudah di sini sejak pukul 09.00 dan baru bisa naik sekitar pukul 11.00. Kami naik sampai Terminal Hamid Rusdi Kota Malang,” ujarnya.
Kepala Bagian Angkutan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur Tio Alam Firmansyah menyatakan lonjakan penumpang memang terjadi sejak hari peluncuran. Terutama pada akhir pekan. “Karena animo penumpang tinggi, kami mulai memberlakukan sistem nomor antrean sejak Sabtu lalu (22/11),” kata Tio.
Penerapan nomor antrean dimaksudkan mengendalikan kerumunan. Sebelum kebijakan itu, calon penumpang kerap berdesakan saat bus tiba sehingga berisiko membahayakan anak-anak dan lansia. Setelah diberlakukan, antrean lebih tertib meski ruang tunggu tetap padat sehingga banyak penumpang menunggu di luar gedung.
Kapasitas armada menjadi salah satu faktor penyebab antrean panjang. Bus Trans Jatim yang beroperasi di rute Malang Raya menampung sekitar 30 penumpang per unit terdiri atas 20 duduk dan 10 berdiri. Interval antararmada sekitar 15 menit sehingga laju pelayanan dinilai kurang cepat untuk menampung lonjakan permintaan pengguna.
Tio mencatat selama satu hari operasional, armada yang berangkat dari Kota Batu mampu mengangkut sekitar 860 penumpang. Jumlah serupa juga terjadi dari Kota Malang. Untuk mendorong publik mencoba layanan, operator menyediakan layanan gratis hingga 26 November mendatang.
Soal tarif, Bus Trans Jatim menerapkan dua kategori yakni Rp5 ribu sekali perjalanan untuk penumpang umum dan Rp2,5 ribu untuk pelajar dan santri. Meski tarif terjangkau, tantangan operasional seperti kapasitas, interval keberangkatan, dan kenyamanan ruang tunggu perlu mendapat perhatian agar layanan berkelanjutan dan aman.
Editor : Aditya Novrian