Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Dana Belanja Daerah di Kota Batu Defisit Rp 90 Miliar

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 19 November 2025 | 20:03 WIB
Grafis Belanja Daerah Kota Batu 2026
Grafis Belanja Daerah Kota Batu 2026

BATU - Proyeksi anggaran belanja Pemerintah Kota (Pemkot) Batu tahun 2026 mengalami penyusutan signifikan. Penyebabnya yakni pengurangan Dana Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp168,8 miliar. Semula, belanja daerah dalam dokumen Kebijakan Umum APBD dan Prioritas–Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) diperkirakan mencapai Rp1,18 triliun.

Namun, kini hanya sekitar Rp1,01 triliun alias berkurang Rp169,5 miliar. Pemangkasan tersebut berdampak pada tiga pos utama yakni belanja operasional, belanja modal, dan belanja transfer. Meski begitu, proyeksi APBD 2026 tetap menunjukkan defisit sebesar Rp90 miliar. Sebab, total pendapatan daerah hanya ditargetkan Rp956,5 miliar.

Wali Kota Batu Nurochman menjelaskan defisit akan ditutup melalui pembiayaan daerah, termasuk memanfaatkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun ini. SiLPA 2025 ini diprediksi mencapai Rp144 miliar. “Dengan porsi itu, kami yakin pembiayaan daerah bisa berimbang,” ujarnya.

Salah satu pos yang terdampak yakni belanja operasional, terutama belanja pegawai. Tahun ini belanja pegawai mencapai Rp441,5 miliar, sementara tahun depan diproyeksikan turun menjadi Rp419,8 miliar. Dampaknya, Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN akan dipangkas hingga 20 persen.

Pemangkasan itu sekaligus untuk menyesuaikan mandatory spending belanja pegawai yang sebelumnya sempat melebihi batas. “Belanja pegawai kita sempat overload, mencapai 33 persen dari total APBD. Padahal maksimalnya 30 persen,” ungkap pria yang akrab disapa Cak Nur tersebut.

Belanja barang dan jasa juga turun tajam. Dari proyeksi awal Rp468,4 miliar, tahun depan hanya Rp380,7 miliar. Beberapa pengadaan seperti Alat Tulis Kantor (ATK) bahkan dikabarkan terpangkas hingga 50 persen.

Belanja hibah juga mengalami penurunan drastis. Tahun ini anggaran hibah mencapai Rp81 miliar, sedangkan tahun depan hanya Rp48,8 miliar atau turun hampir 50 persen. Sebaliknya, belanja bantuan sosial (bansos) justru naik tipis dari Rp51,1 miliar menjadi Rp51,5 miliar.

Di tengah pemangkasan tersebut, Pemkot Batu memastikan sejumlah program prioritas tetap berjalan. Fokus utama meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), pendidikan, hingga penguatan UMKM dan ekosistem ekonomi kreatif (ekraf).

Cak Nur menegaskan komitmennya mencetak generasi unggul melalui program beasiswa seribu sarjana dan insentif baik bagi siswa berprestasi maupun kurang mampu. Di sektor ekonomi, penguatan UMKM dan ekraf diharapkan mampu menggairahkan kembali pariwisata dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal.

Beberapa program nonprioritas terpaksa ditunda. Salah satunya rencana pengadaan bianglala (ferris wheel) baru di Alun-Alun Kota Wisata Batu. Menurut Cak Nur proyek fisik membutuhkan anggaran besar. Sementara, Pemkot Batu saat ini memfokuskan belanja ke pelayanan dasar dan pengembangan ekonomi masyarakat.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Setiap pengurangan anggaran sudah melalui kajian risiko dan manfaat,” tegasnya. Ia memastikan tetap berkomitmen menjaga tata kelola pemerintahan yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#tkd #Silpa #pemkot batu #kua ppas