BATU - Jangkauan penerimaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batu terus diperluas di tengah polemik lauk dan sayur yang didistribusikan dalam kondisi basi. Bahkan, ada 12 siswa yang diduga keracunan setelah mengonsumsi MBG tersebut. Namun, pada 29 September lalu ada dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru yang memulai operasionalnya.
Dua dapur SPPG itu berada di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo dan Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji. Sehingga, saat ini ada tujuh dapur SPPG di Kota Batu. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Ririk Mashuri mengatakan tujuh dapur SPPG itu diperkirakan bisa memproduksi paket MBG sebanyak 16.141 porsi.
Dia menyampaikan kapasitas produksi setiap dapur SPPG berbeda-beda. Namun, rata-rata tiap dapur bisa memproduksi 2.500 porsi MBG. Dia merinci dapur SPPG di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo memproduksi sebanyak 3.148 porsi MBG. Dapur SPPG di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo memproduksi 2.579 porsi. Dapur SPPG di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu memproduksi 2.683 porsi MBG.
“Sayangnya, sementara ini dapur SPPG tersebut dinonaktifkan pascakeluhan terkait lauk dan sayur basi dan insiden muntah-muntah yang disampaikan sejumlah siswa,” ungkapnya. Lebih lanjut, Ririk mengatakan dapur SPPG di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu memproduksi 2.683 porsi MBG.
Terakhir, dapur SPPG di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji memproduksi 2.731 porsi MBG. Ririk belum bisa memastikan berapa kapasitas produksi dua dapur SPPG yang baru itu. Namun, dia memprediksi dua dapur SPPG baru itu bisa menyumbang produksi MBG mencapai 5.000 porsi per hari.
Ririk berkomitmen untuk memperketat pengawasan distribusi MBG ke sekolah-sekolah. Kondisi makanan yang disalurkan harus benar-benar dipastikan kelayakan dan higienitasnya. “Khususnya dapur juga harus berbenah atas masalah yang sudah ada agar kasus serupa bisa dicegah dan tidak terulang kembali,” tegasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho