BATU - Kreasi seni di Kota Batu memang tak ada habisnya. Seperti yang dilakukan 18 seniman lokal di Galeri Raos sejak 20 September lalu. Mereka memamerkan 18 karya seni lukisan dinding sepanjang 40 meter dengan tinggi 3 meter bermaterial arang seberat 3 kilogram. Ya, karya tersebut dilukis langsung di dinding.
Proses pembuatan lukisan bervariatif. Ada yang hanya perlu dua jam. Ada pula yang digarap bertahap beberapa hari. Total seluruh lukisan selesai dalam satu minggu. Senimannya pun usianya beragam. Mulai dari 35 tahun sampai di atas 60 tahun. “Tidak ada material tambahan. Seluruhnya menggunakan arang,” ujar Prie Wahyuono, salah seorang kontributor.
Dia mengaku membuat arang sendiri. Caranya dengan mengumpulkan berbagai jenis kayu di sekitarnya. Seperti kayu damar, kayu jambu, kayu sengon, dan kayu waru. Kayu-kayu itu kemudian dibentuk seperti pensil berukuran dua ruas jari manusia. Setelah itu, baru diproses menjadi arang.
Pemilihan arang sebagai material lukisan tidak asal-asalan. Ide itu muncul sejak Juli lalu. Prie mengaku ide tersebut bermula dari celetukan salah seorang seniman lain yakni Watoni. Lantas celetukan itu disambut baik para seniman lain.
Arang dipilih lantaran keberadaannya melimpah, mudah diaplikasikan, serta menghasilkan jejak yang kuat. Kendati arang rentan terhadap sentuhan. Itu merepresentasikan kerapuhan sekaligus kekuatan ekspresi manusia.
Pameran tersebut akan berlangsung hingga 30 September mendatang. Setelah itu seluruh karya akan dihapus. Dinding akan dicat ulang dengan warna putih. “Artinya tidak ada yang abadi,” jelas pria asal Kelurahan Temas, Kecamatan Batu itu.
Dia mengatakan selain lukisan, ada satu patung yang diciptakan satu seniman lain. Yakni Agus Sujito dengan judul karya At The Edge of The Horns. Semua lukisan memiliki tema beragam tetapi tetap berkaitan satu sama lain. Yang jelas tak ada media yang dibiarkan kosong begitu saja. “Itu melibatkan kepekaan dalam merespons tiap karya,” pungkasnya.
Sebanyak 18 seniman yang memamerkan karyanya tersebut di antaranya Anwar, A. Rokhim, Agus Sujito, Agos Tobron, Badrie, Djoeari Soebardja, Gusbandi Harioto, M. Imon Fatoni, Prie Wahyuono, Riyanto Sinyo, Saihu, Slamet Henkus, Soegiono, Sugeng Pribadi Klemin, Syamsu Soeid, Watonisays, Yusfianto, dan Zhirenk. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho