BATU - Jumlah bencana alam yang melanda Kota Batu tahun ini meningkat signifikan jika dibandingkan tahun 2024. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ada 118 bencana yang terjadi sepanjang Januari-Agustus lalu. Sedangkan, pada 2024, jumlah bencana tercatat 98 kejadian.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Nugroho mengungkapkan bencana tahun ini didominasi akibat cuaca ekstrem dengan 31 kejadian. Meliputi pohon tumbang dan angin kencang. Sementara, tanah longsor terjadi sebanyak 67 kali, banjir terjadi sebanyak 13 kali, dan kebakaran gedung sebanyak 7 kali.
Sementara tahun lalu, bencana didominasi tanah longsor sebanyak 39 kejadian, cuaca ekstrem sebanyak 27 kejadian, banjir sebanyak 18 kejadian, kebakaran hutan dan lahan sebanyak 6 kejadian, dan kebakaran gedung sebanyak 8 kejadian. Meski jumlah kejadian bencana tahun ini lebih tinggi tetapi dampak yang ditimbulkan tidak signifikan.
Dari 67 peristiwa tanah longsor yang terjadi tahun ini, jumlah rumah terdampak tidak lebih banyak daripada tahun lalu (selengkapnya baca grafis). Alasannya bencana yang terjadi kebanyakan dalam skala kecil.
“Berbeda dengan peristiwabanjir skala besar beberapa tahun lalu yang mengakibatkan dampak yang sangat parah,” ujarnya.
Sepanjang dua tahun terakhir Gatot tidak mencatat adanya korban jiwa. Namun, pada 2024 lalu ada 10 orang yang mengalami luka. Sedangkan tahun ini tak ada korban baik jiwa maupun luka yang tercatat BPBD.
“Yang paling banyak terdampak adalah rumah. Mulai dari kerusakan ringan, kerusakan sedang, hingga kerusakan berat,” ujarnya.
Seperti bencana yang terjadi Agustus lalu di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji. Sekitar 10 rumah dan satu greenhouse atau rumah kaca untuk budidaya jamur porak poranda dihantam angin kencang. Beruntungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, kerusakan yang dialami beberapa masyar akat cukup parah.
Kendati begitu, jumlah rumah terdampak bencana tahun ini menurun jika di bandingkan 2024 lalu. Dia mencatat ada 122 rumah rusak akibat bencana yang terjadi sepanjang Januari - Agustus lalu. Terdiri atas rusak ringan 11 rumah, rusak sedang 11 rumah, dan sisanya rusak berat. “Sementara tahun lalu ada 194 rumah rusak akibat bencana,” tuturnya.
Gatot mengatakan kondi si cuaca tahun ini memang jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Contohnya, bulan-bulan ini yang seharusnya musim kemarau malah berganti menjadi musim hujan. Hujan terpantau masih kerap turun. Padahal idealnya musim hujan berlangsung maksimal hingga Agustus saja sejak perubahan iklim global.
“Itulah mengapa masih ada kejadian angin kencang beberapa waktu terakhir yang biasanya terjadi akibat pergantian musim,” jelasnya. Bahkan, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan ancaman cuaca ekstrem pada bulan-bulan ini. Fenomena itu terjadi akibat gangguan gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO).
Selain itu juga ada yang dipengaruhi gelombang rossby dan gangguan atmosfer low frequency yang melintasi wilayah Jawa Timur. Itulah yang menyebabkan hujan meski saat ini seharusnya masih kemarau. Gatot menilai kondisi cuaca tahun lalu berjalan cukup normal sesuai dengan musimnya. Meski angin kencang tetap terjadi setiap pergantian musim.
Berbeda dengan tahun ini yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Dia meminta masyarakat tetap waspada sepanjang cuaca ekstrem berlangsung. Mengingat itu menyebab kan cuaca yang tidak menentu. “Tentu beberapa upaya antisipasi juga sudah kami lakukan dan sedang bergulir untuk mitigasi terjadinya bencana,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho