BATU - Meski Kota Batu relatif kondusif di tengah gelombang aksi demonstrasi, Gedung DPRD tetap tampak sepi. Berdasarkan pantauan wartawan koran ini kemarin (2/9), tak ada satu pun anggota dewan yang hadir ke kantor. Padahal tak ada imbauan melakukan Work From Home (WFH).
Saat dihubungi, ada sejumlah alasan yang disampaikan. Mulai dari sakit, dinas luar kota, WFH, bahkan ada yang beralasan sedang mengurus kebun. Hanya tampak beberapa staf dan mahasiswa magang di kantor legislatif itu. Sejak muncul aksi demonstrasi pada 28 Agustus lalu, anggota dewan memang terlihat menutup diri.
Ketua DPRD Kota Batu Didik Subiyanto membantah hal tersebut. Dia menyampaikan ada beberapa anggota dewan yang tetap ngantor. Namun, dia tidak menyebut siapa saja orangnya. Beberapa anggota dewan yang tidak hadir, dikonfirmasi lantaran memang tak ada agenda apapun hari itu.
“Kebetulan hari ini (kemarin) tidak ada agenda, jadi wajar kalau tidak ada orang,” tegasnya. Didik mengatakan sejauh ini tidak ada rencana demonstrasi yang akan dilakukan di Kota Batu di tengah isu aksi yang akan digelar hari ini (3/9). Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meminta semua masyarakat untuk menahan diri.
Mengingat rencana kenaikan tunjangan sudah resmi dibatalkan. Itu mengikuti keputusan pemerintah pusat. Didik memastikan kenaikan tunjangan masih sebatas wacana dan belum terealisasi. Sejauh ini DPRD Kota Batu masih menerima besaran gaji yang sama seperti sebelumnya.
Yakni, Ketua DPRD memeroleh tunjangan sebesar Rp 26,6 juta, Wakil Ketua DPRD sebesar Rp 25,2 juta, dan anggota DPRD sebesar Rp 22,6 juta. “Lagipula wacana itu sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun lalu. Namun, baru selesai dibahas pada Mei lalu dan baru akan direalisasikan tahun depan,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho