BATU - Penyaluran insentif lansia tahun ini mengalami keterlambatan. Seharusnya bantuan tersebut disalurkan tiga bulan sekali. Namun sejak Januari lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu belum mencairkannya satu kali pun. Rencananya insentif tersebut akan dirapel untuk enam bulan sekaligus. Yakni untuk periode Januari-Maret dan April-Juni.
Kepala Bidang Bantuan Jaminan Sosial (Banjamsos) Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batu Wiwit Anandana mengatakan pencairan bakal dilakukan September nanti. Setiap periode pencairan, lansia yang terdata sebagai penerima akan mendapat insentif sebesar Rp 1,5 juta. Artinya, bulan depan mereka akan mendapat jatah dobel alias Rp 3 juta.
Keterlambatan penyaluran insentif lansia ditengarai pergantian pimpinan daerah awal tahun ini. Sehingga prosesnya terhambat birokrasi. Wiwit mengaku sudah melakukan verifikasi data terhadap 164 lansia yang dinyatakan berhak menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu pada 21 Agustus lalu.
“Sayangnya, 13 di antaranya terkonfirmasi meninggal dunia,” ujarnya. Sehingga data final penerima hanya berjumlah 151 lansia saja. Penerima insentif tahun ini dipastikan berbeda dengan data tahun lalu. Sebab, pendataan dan verifikasi dilakukan secara ketat. Tujuannya agar bantuan tersalurkan tepat sasaran dan merata.
Penyaluran bantuan sebenarnya menggunakan kode Virtual Account (VA) Bank Jatim. Berhubungan penerimanya lansia, Wiwit mengaku akan menyalurkannya dalam bentuk tunai. Pria kelahiran Kota Surabaya itu mengatakan dana insentif tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025.
Dia juga memastikan untuk periode penyaluran selanjutnya akan dilakukan rutin tiap triwulan sekali. Artinya insentif periode berikutnya akan dicairkan pada bulan Sepetember akhir atau Oktober awal dan Desember akhir atau Januari awal. “Jadi setelah ini jadwal pencairan akan kembali seperti semula yakni tiga bulan sekali,” jelasnya.
Wiwit menambahkan sebenarnya ada 233 lansia yang masuk sebagai calon penerima insentif. Namun setelah dilakukan verifikasi hanya 164 lansia saja yang lolos. Selain gugur karena meninggal dunia ada pula yang tidak termasuk masyarakat prasejahtera. “Tim kami memastikan semua penerima berada di desil 1-5 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN),” pungkasnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho