BATU - Kompleksitas permasalahan di Pasar Induk Among Tani Batu terus menjadi PR besar. Pemerintah Kota (Pemkot) Batu baru saja mengusulkan untuk membentuk tim kajian pasar. Selain untuk memetakan segala kebutuhan untuk pertumban dan perkembangan pasar, tim tersebut nanti juga akan menampung semua aspirasi pedagang dan pengunjung.
Itu disampaikan Wali Kota Batu Nurochman setelah melakukan audiensi bersama para pedagang pada 12 Agustus lalu. Tujuan utama pembentukan tim kajian pasar itu yakni mengembalikan geliat pasar dan minat pembeli. Selain itu, juga masalah tata kelola pasar. Sehingga, tim tersebut akan bertanggung jawab atas problematika pasar.
Pria yang akrab disapa Cak Nur itu memastikan rehabilitasi fasilitas umum (fasum) di pasar induk sudah dianggarkan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2026. Misalnya, untuk perbaikan talang air pasar yang banyak dikeluhkan lantaran mengalami kebocoran.
“Pembentukan tim kajian pasar kami serahkan kepada Dinas Koperasi Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu,” ujarnya. Cak Nur mengaku tak perlu banyak khawatir sebab pagu anggaran. Dia yakin itu bisa diajukan dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). Sehingga, proses kajian bisa dimulai tahun ini juga.
Dia berharap Pasar Induk Among Tani Batu bisa kembali ramai seperti dulu. Sehingga, ratusan kios dan los pedagang yang mangkrak juga segera terisi kembali. “Pasar Induk ini sudah berdiri lama, untuk itu sekarang saatnya melakukan evaluasi agar roda ekonomi bisa berputar lebih masif lagi,” tandas dia.
Sebagai informasi, berdasarkan data UPT Pasar Induk Among Tani Batu, ada 1.756 kios dan 884 los di sana. Artinya, total ada 2.640 kios dan los yang ditempati para pedagang. Namun, hanya 80 persen kios dan los saja yang aktif berjualan. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho