Dulu Penangkal Pagebluk, Kini Jadi Pembuka Bantengan.
Di Kota Batu, pertunjukan Bantengan bisa lebih semarak dengan tambahan Kesenian Gumbingan. Mulai dilestarikan sejak 1970-an, kesenian yang disebut-sebut mengadopsi dari budaya Tionghoa itu sempat meredup. Kelompok Seni Rukun Santoso jadi yang terdepan melestarikannya.
SEBELUM muncul wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2022 lalu, pandemi penyakit sapi sempat beberapa kali menyerang Indonesia. Banyak yang meyakini bahwa periode pertama terjadi pada 1887. Ketika Indonesia banyak kedatangan sapi-sapi impor dari Belanda.
Periode berikutnya terjadi pada 1962, dan mulai menyebar luas ke berbagai daerah di Indonesia. Memori terkait pagebluk penyakit sapi itu cukup diingat Kelompok Seni Rukun Santoso. Kelompok seni yang berpusat di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu itu berdiri sejak 1977.
Cerita turun temurun dari para pendahulu cukup diingat anggota kelompok seni tersebut. Salah satunya yakni cerita tentang kebiasaan orang-orang zaman dulu menempelkan gambar gumbing, atau makhluk yang dipercaya mampu mengusir hal-hal buruk.
Gumbing digambarkan sebagai hewan buas seperti singa. Dulu, gambarnya dipercaya mampu menghalau pagebluk penyakit sapi. Gambar itu biasa dibubuhkan pada cobek. Kemudian ditempelkan di atas kandang sapi. ”Setelah itu, menurut cerita orang-orang zaman dulu, secara berangsur sudah tidak ada lagi kematian mendadak pada sapi,” kata Ricky Dwi, sekretaris kelompok seni Rukun Santoso .
Seiring berjalannya waktu, gumbing pada media cobek dialihkan dalam perwujudan topeng dengan ukuran 60 x 60 sentimeter. Terbuat dari bahan-bahan seperti kayu, bambu, karung goni, dan lainnya. Topeng itu kemudian diperagakan dalam rangkaian pertunjukan Bantengan.
Tepat sebelum Bantengan, topeng gumbingan bakal tampil terlebih dahulu. ”Tujuannya sama, untuk mengusir hal-hal buruk. Kami menyebutnya untuk menetralkan aura buruk dari hal gaib,” tambah Ricky.
Gumbingan biasanya hadir setelah pencak silat dilakukan dalam pertunjukan. Durasi pencak silat sekitar 30 sampai 45 menit. Setelah itu ada penampilan gumbingan sebagai penetral hal-hal buruk yang akan masuk. Durasi penampilan gumbingan hanya 10 sampai 15 menit saja.
Setelah itu disusul penampilan Bantengan dalam durasi yang lebih lama. Bisa sampai satu jam lamanya. ”Karena sebentar itulah beberapa kelompok Bantengan memilih tidak menggunakan gumbing,” tambah pria berusia 28 tahun itu.
Gerakan gumbingan relatif mudah. Mulanya akan masuk dua gumbing yang memperagakan adegan bertengkar. Pertengkaran itu pada akhirnya bakal berakhir imbang. Setelah selesai, beberapa gumbing masuk dan berjalan melingkar di antara dua gumbing itu.
Umumnya, dalam setiap pertunjukan ada enam sampai delapan gumbing. Jumlahnya selalu genap, tidak pernah ganjil. Sebab, filosofinya untuk mengusir hal-hal negatif yang tidak bisa dilakukan sendirian. Harus bersama-sama. Contoh dua gumbingan berukuran 60 x 60 sentimeter masih tersimpan rapi di markas Kelompok Seni Rukun Santoso, di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu.Total ada 13 gumbingan yang dimiliki kelompok seni tersebut.
Saat ini ada 115 anggota Kelompok Seni Rukun Santoso. Mayoritas sudah dewasa. Sisanya sekitar 30 sampai 40 anggota merupakan anak-anak. Dulu, Rukun Santoso diberi nama Silat Keliran karena menjadi satu-satunya kelompok silat yang di dalamnya mengajarkan kesenian gumbingan di Dusun Keliran, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji.
”Jadi cukup (menyebut) silat keliran orang akan paham tentang kelompok kami,” jelasnya. Seluruh cerita terkait gumbingan belum dituliskan dalam sebuah buku. Sebab, ceritanya belum banyak diketahui orang.
Berdasar sumber lain disebutkan bahwa pertunjukan itu terinspirasi dari budaya Tionghoa. Yakni lamsay, sejenis barongsai kecil. Ayom, salah seorang pelaku seni gumbingan juga mengatakan demikian. ”(Lamsay) itu juga sama, untuk tolak balak menurut kepercayaan Tionghoa,” jelas Ayom.
Kini, jumlah kelompok kesenian Bantengan yang memasukkan tambahan gumbingan mulai bertambah. Saat ini sudah ada tujuh kelompok yang kerap merangkul pelaku seni gumbingan lagi. Sebelumnya, pada 2024 lalu hanya ada tiga sampai lima kelompok Bantengan yang aktif melakukannya. Itu terjadi karena ada kegiatan gumbingnesia yang turut mengundang gumbingan dari daerah lain, beberapa waktu lalu. (*/by)
Editor : A. Nugroho