BATU - Lahan apel di Kota Batu terus menyusut. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu pada akhir tahun 2024 lalu, lahan apel hanya tersisa 740,07 hektare saja. Ada penyusutan sebanyak 83,26 hektare dari tahun sebelumnya. Pasalnya, 2023 lalu luas lahan apel masih 823,33 hektare (selengkapnya baca grafis).
Penyusutan lahan apel sudah terjadi sejak 2019 lalu. Pada tahun itu, luasan lahan apel mencapai 1,765,95 hektare. Penyebabnya utamanya adalah agroklimat dan perubahan struktur tanah. Sehingga menyebabkan alih fungsi lahan ke komoditas selain apel yang cukup masif. Khususnya ke komoditas jeruk.
Saat ini lahan apel hanya ada di empat desa di Kecamatan Bumiaji. Yakni Desa Tulungrejo, Desa Sumbergondo, Desa Bulukerto, dan Desa Bumiaji. "Yang paling banyak ada di Desa Tulungrejo. Ada sekitar 300 hektare lahan apel di sana," terang Kepala Distan-KP Kota Batu Heru Yulianto.
Selain faktor agroklimat dan rusaknya struktur tanah akibat pupuk kimia, dia menilai menjamurnya bisnis properti dan kafe juga turut melatari penurunan jumlah lahan apel. Ada yang kemudian beralih menjadi perumahan, vila, dan kafe. Puncak pelemahan produksi apel terjadi pada saat pandemi Covid-19.
“Saat itu ekonomi melemah sedangkan modal operasional apel cukup tinggi,” ungkapnya. Heru menyampaikan satu hektare lahan apel butuh sekitar Rp 100 juta per tahun untuk operasional dan perawatannya. Sementara, harga jual dan permintaan pasar tak bisa menutup kebutuhan tersebut.
Alhasil, petani hanya bisa untung tipis bahkan kerap tidak laba sama sekali. Itulah mengapa akhirnya para petani apel migrasi ke komoditas lain seperti jeruk. Sebab, kebutuhan operasional komoditas tersebut dinilai lebih murah.
Terpisah, Kepala Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Distan-KP Kota Batu Retno Indahwati mengatakan agroklimat belakangan tak menentu. Itu memperparah produksi dan penyusutan lahan apel.
"Kalau kondisi cuaca tak menentu rawan terserang lalat buah," ujar Retno. Dia menegaskan Pemkot Batu terus berupaya untuk mendukung petani apel yang masih bertahan. Serta berupaya memperluas lahan apel ke depannya.
"Salah satunya dengan pemberian hibah untuk kelompok tani guna revitalisasi lahan apel," terang perempuan alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu. Tahun ini ada lima kelompok yang mendapatkan bantuan. Itu untuk pemenuhan sarana produksi (saprodi) dan rehabilitasi.
Ada pula hibah untuk lahan demonstrasi plot (demplot) apel. Itu diberikan kepada satu kelompok tani di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. "Kami juga bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk pengembangan varietas apel baru yang cocok dengan kondisi iklim saat ini," tutupnya. (nj5/dre)
Editor : A. Nugroho