Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pemkot Batu Serius Revitalitasi Lahan Apel

Bayu Mulya Putra • Sabtu, 14 Juni 2025 | 23:04 WIB
DAPAT PERHATIAN: Luas lahan pertanian apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.
DAPAT PERHATIAN: Luas lahan pertanian apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.

KOTA BATU - Eksistensi apel sebagai ikon Kota Batu coba dipertahankan. Pemkot Batu kini tengah merumuskan upaya revitalisasi untuk mengembalikan popularitas apel. Lahan jadi target revitalisasi mencapai 278,5 hektare

Untuk diketahui, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu mencatat, jumlah luas lahan apel yang kian menurun. Tahun 2020 lalu, luas lahan perkebunan apel sekitar 1.200 hektare. Kemudian pada 2022 berkurang menjadi 1.092 hektare. Setahun berselang, turun lagi menjadi 1.044 hektare.

Sementara tahun 2024 hanya menyisakan 900 hektare saja. Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, permasalahan utama budi daya apel saat ini karena kondisi agroklimat yang terus menurun. Penurunan kesuburan lahan memengaruhi produktivitas apel. ”Itu ditandai dengan kandungan organik dalam tanah mulai berkurang. Sehingga dapat memengaruhi proses dekomposisi dan ketersediaan nutrisi dalam tanah,” kata dia.

Pria yang akrab disapa Cak Nur itu mengaku bahwa pihaknya kini tengah merumuskan sejumlah upaya revitalisasi. Salah satunya dengan memberikan fasilitas bibit apel unggul yang bersertifikat. Dia menyebut, perubahan kondisi tanah membuat petani sering kewalahan menyesuaikan diri. Sehingga, perlu benih yang unggul agar produktivitas meningkat.

Salah satu langkah strategisnya yakni melakukan uji laboratorium kandungan lahan. Baik secara organik makro maupun mikro. Dengan begitu, perawatan penanaman lahan apel bisa lebih optimal. ”Selain itu, kami berikan dukungan berupa pupuk, pestisida, dan hormon pertumbuhan ramah lingkungan,” imbuhnya.

Monitoring dan evaluasi juga akan dilakukan untuk mengidentifikasi persoalan semasa tanam. Termasuk pemantauan hasil panen apel dari lahan petani. ”Kami sudah menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” imbuh politisi PKB tersebut. Dukungan lain juga diberikan kepada petani apel. Seperti menggetolkan upaya promosi wisata petik apel. Juga menggelar event festival apel, agro expo, hingga Batu Agro Expo.

Di tempat lain, Ketua Kelompok Tani Bersama Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Utomo mengakui jika lahan apel semakin menyusut. Di wilayahnya juga terjadi penyusutan lahan lebih dari 50 persen. Dari yang dulu mencapai 1.000 hektare, saat ini hanya tinggal 300 hektare saja.

”Kami sudah ada komunikasi dengan DPRD Kota Batu untuk permintaan perhatian bagi petani apel,” terangnya. Sejauh ini, petani apel banyak yang beralih ke komoditas tanaman lain karena kerap merugi. Sebab, hasil panen sudah tidak relevan dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

Harga apel saat ini hanya berkisar Rp 8 ribu per kilogram. Sebelumnya sempat menyentuh Rp 10 ribu per kilogram. ”Kalau ada perhatian untuk tambahan subsidi harga, mungkin lebih efektif. Sebab, petani tidak lagi takut akan rugi,” tambah Utomo.

Dia berharap pemkot tidak hanya menggandeng tenaga ahli saja. Namun juga mengintensifkan komunikasi dengan petani. Tujuannya agar bantuan yang disalurkan tepat sesuai kebutuhan. ”Misalnya pemberian pupuk bersubsidi, itu harus sesuai dengan jumlah kebutuhan agar hasilnya optimal,” ujarnya.

Selama ini, porsi pemberian pupuk subsidi dilakukan dengan cara pendataan kolektif terhadap satu gabungan kelompok tani (gapoktan). Padahal, tidak seluruhnya menanam apel dan memerlukan pupuk tersebut. ”Juga perlu dilakukan pendataan luasan lahan agar subsidi yang diberikan seimbang dengan kebutuhan petani,” pungkasnya. (ori/by)

Editor : A. Nugroho
#apel #gapoktan #Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan #kota batu