BATU - Program tetirah anak di Unit Pelaksana Teknis Perlindungan dan Pelayanan Sosial Petirahan Anak (UPT PPSPA) Bima Sakti bakal berhenti operasional bulan depan.
Tempat itu resmi dialihfungsikan menjadi Sekolah Rakyat yang akan beroperasi mulai Juli mendatang.
Plt Kepala UPT PPSPA Bima Sakti Batu Yudho Kisworo menyampaikan kondisi tempat pemulihan itu tak seperti beberapa tahun lalu.
Terutama sebelum pandemi Covid-19 melanda.
Jumlah peserta tetirah yang ditangani tidak sebanyak dulu.
“Setiap bulan kami hanya menerima 50 peserta tetirah saja sekarang. Kalau dulu bisa sampai 100 anak per bulannya.” ungkapnya.
Program tetirah itu diikuti anak-anak yang bermasalah.
Mulai dari gangguan kepercayaan diri, konsentrasi, dan etika. Mereka dikirim ke UPT PPSPA dari hasil penjaringan dinas sosial di seluruh daerah di wilayah Provinsi Jawa Timur.
Anak-anak tersebut akan menjalani program yang rata-rata dirancang untuk diikuti selama 25 hari.
Sayangnya, program tersebut akan berhenti pada akhir bulan ini.
“Kami akan fokus akselerasi pembangunan dan rehabilitasi bangunan gedung untuk digunakan sebagai sekolah rakyat,” tegasnya.
Meski begitu, Yudho menyebut ada PR yang perlu diselesaikan terkait pemindahan pegawai di sana.
Mengingat anggaran dan program sudah diplot selama satu tahun.
Sehingga, perlu adanya beberapa penyesuaian terkait hal itu.
Dirinya mengaku sedang melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.
Mengingat pegawai UPT PPSPA bukan pendidik. Sehingga, tidak memungkinkan jika diberdayakan di Sekolah Rakyat. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian