BATU - Pengawasan sampah di Gunung Buthak masih belum maksimal.
Sebab, jalur pen dakian bisa diakses dari tiga daerah.
Yakni Kota Batu, Blitar, dan Kabupaten Malang.
Beberapa pendaki memilih jalur pergi dan pulang yang berbeda.
Sehingga, pengecekan sampah yang seharusnya dibawah turun dari pendakian tidak bisa dipastikan dengan baik.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Tani Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, Ahmad Syaifudin mengatakan selama ini petugas di tiga jalur pendakian itu belum terkoneksi dengan baik.
Sehingga, pengecekan potensi sampah yang dibawa pendaki di jalur masuk tidak terdeteksi dengan baik di jalur pulang.
“Kami selalu cek potensi sampah yang dibawa pendaki. Kemudian, kami cek lagi saat turun,” ujarnya.
Tentu itu tak bisa dilakukan jika pendaki memilih jalur pulang yang berbeda dengan jalur pergi.
Untuk itu dirinya akan membuat regulasi pendakian yang baru.
Salah satunya mengharuskan pendaki turun di jalur yang sama dengan jalur perginya.
Sehingga, pengecekan sampah yang dibawa turun pendaki bisa dilakukan secara maksimal.
Selain itu, Udin juga ingin petugas di tiga jalur pendakian terintegrasi dalam sebuah komunikasi dan pengelolaan yang baik.
Sehingga, pendaki bisa naik dan turun melalui jalur manapun.
“Kami ingin alam tetap lestari, bersih, dan steril dari sampah,” ujarnya.
Meski begitu, dia mengaku selama ini minim ditemukan pelanggaran buang sampah sembarangan di gunung.
Udin mengaku selalu melakukan pengecekan rutin secara berkala di jalur pendakian hingga puncak.
Sejak dibuka kembali pada 14 April lalu, Gunung Buthak sudah dikunjungi lebih dari 5.000 pendaki.
“Sebelumnya sering buka tutup karena cuaca buruk dan bulan puasa,” ujar Udin.
Pendaki datang dari berbagai wilayah di Indonesia.
Mulai pendaki lokal dari Malang Raya, luar daerah seperti Jakarta dan Jawa Tengah, hingga luar negeri seperti Australia.
Pendakian Gunung Buthak bisa ditempuh dengan waktu 8-10 jam. (iza/dre)
Editor : Aditya Novrian