BATU - Tak semua harga komoditas turun setelah Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah.
Harga kelapa malah naik dua kali lipat.
Biasanya harga satu buah kelapa dibanderol 8–10 ribu.
Namun, saat ini harganya melonjak menjadi 18–20 ribu per buah.
Salah seorang pedagang kelapa di Pasar Induk Among Tani Batu, Andi, mengatakan mahalnya harga kelapa lantaran permintaan yang cukup tinggi belakangan ini.
Itu tak lepas dari momen Lebaran Ketupat yang dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.
Kebutuhan masyarakat atas buah kelapa meningkat drastis.
Mengingat ketupat selalu disajikan dengan sayur bersantan.
Seperti sayur tahu tempe santan, opor ayam, dan sejenisnya.
Wajar jika harga kelapa jadi melambung.
“Apalagi kami mengambil kelapa dari luar daerah. Seperti dari Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang,” katanya.
Andi mengaku nyaris semua pedagang di pasar induk mengambil dari pemasok di wilayah yang sama.
Sehingga, saat permintaan meningkat, stok di pemasok terbatas.
Dia mengaku kenaikan harga kelapa sudah terjadi jauh sebelum Lebaran.
Kelapa merupakan komoditas yang cukup unik.
Pasalnya, sekali harganya naik, akan sangat sulit untuk turun.
Naiknya harga kelapa membuat omzet hariannya fluktuatif.
Beberapa masyarakat terpaksa harus membeli meski harganya mahal.
Tentu saja alasannya karena kebutuhan.
“Tapi ada juga yang tidak jadi dan memilih membeli santan instan,” jelasnya.
Salah seorang pembeli, Rika Amalia, mengaku masih membeli kelapa meski harganya naik.
Itu lantaran rasa santan yang dihasilkan dari kelapa murni lebih enak dibanding dengan santan instan atau santan dalam kemasan.
“Kalau untuk membuat sayur nangka dan opor saya masih pilih menggunakan santan asli karena rasanya lebih enak dan sedap,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho