BATU - Angka kejadian kebakaran selama musim hujan masih cukup tinggi.
Sepanjang Januari hingga awal Maret lalu Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu mencatat ada delapan kejadian kebakaran.
Objek yang terbakar didominasi bangunan rumah dan fasilitas umum (fasum).
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu Agung Sedayu mengatakan selama musim hujan tidak ada lagi kasus kebakaran lahan.
Sebab, objek tersebut cukup mendominasi kasus kebakaran yang terjadi saat musim kemarau tahun lalu.
Dia merinci Januari lalu ada sebanyak lima kasus kebakaran.
Sementara, pada Februari ada dua kasus dan Maret ada satu kasus kebakaran.
Kebanyakan kejadian kebakaran itu disebabkan korsleting listrik dan kebocoran tabung gas LPG.
Total kerugian dari delapan kejadian kebakaran itu mencapai Rp 500 juta.
“Kerugian paling besar yakni kebakaran Museum dan Galeri Seni Kota Batu yang mencapai Rp 300 juta,” ujarnya.
Dia menjelaskan kebakaran menimbulkan kerugian materiil dan immateriil.
Terutama bila yang terbakar ialah tempat produksi.
Kebanyakan itu dialami pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Untuk itu, dia meminta agar pelaku UMKM melengkapi tempat usahanya dengan alat pemadam kebakaran (Apar) berukuran kecil.
“Dengan begitu, penanganan awal bencana bisa ditangani dengan cepat,” ujarnya.
Idealnya memang setiap rumah punya satu apar.
Agung menyebut harga apar cukup terjangkau.
Apalagi jika dibandingkan dengan potensi kerugian saat terjadi kebakaran.
Sayangnya, keasadaran masyarakat masih sangat minim terkait hal itu.
“Harga apar ukuran kecil hanya sekitar Rp 300 ribu saja,” imbuhnya.
Jika itu masih dirasa mahal, dia punya alternatif lain.
Yakni dengan siap sedia kain katun seperti kain selimut atau handuk.
Kain itu bisa langsung dicelupkan ke air jika terjadi kebakaran sewaktu-waktu.
Terutama untuk kasus kebakaran yang disebabkan gas LPG. (iza/dre)
Editor : A. Nugroho