Hotel Mulai Terima Pembatalan Reservasi Kegiatan Purnawiyata
BATU - Larangan wisuda di SMA, SMK, dan SLB memicu kekecewaan sejumlah pihak.
Pasalnya, momen tersebut kerap digunakan siswa untuk merayakan selesainya proses belajar selama tiga tahun.
Selain itu, juga sebagai tanda perpisahan dengan teman-temannya.
Kendati begitu, kegiatan wisuda memang selalu menuai pro dan kontra.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri Kota Batu Anto Dwi Cahyono menjadi salah satu pihak yang kecewa degan ke bijakan larangan wisuda tersebut.
Alasannya, dia banyak menerima keluhan dari siswa yang sedih dengan peniadaan wisuda tersebut.
Bahkan, banyak siswa yang mengekspresikan kekecewaannya dalam sebuah konten tiktok.
“Mereka bikin konten video tiktok tentang wisuda yang tak ada itu,” ujarnya.
Namun, Anto mengaku akan tetap patuh pada kebijakan yang ada.
Dia menjelaskan selama ini 29 sekolah jenjang menengah atas di Kota Batu mayoritas menggelar wisuda di hotel.
Kegiatan di luar sekolah itu bukan tanpa alasan.
Sebab, nyaris semua sekolah tak memiliki ruang atau tempat yang representatif untuk menampung banyak orang.
Mengingat kegiatan wisuda akan dihadiri orang tua dan wali siswa.
“Misalnya jumlah siswa kami 300 orang. Kalau dengan orang tua kan jadi 600 orang,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ke pala SMAN 2 Batu itu Selain itu, kegiatan wisuda di sekolah juga akan memakan waktu dan tenaga lebih.
Itu lantaran persiapan yang dilakukan akan lebih panjang dan njlimet.
Konsekuensinya harus ada kepanitiaan besar untuk kover kegiatan tersebut.
“Yang paling efektif memang di hotel sejauh ini,” ungkapnya.
Anto menegaskan jika kegiatan wisuda bukan merupakan agenda wajib sekolah.
Namun, itu dilaksanakan berdasarkan kesepakatan.
Termasuk untuk menentukan biaya yang harus dibayarkan.
Biayanya pun juga tak me maksa.
Jika ada yang keberatan akan diperbolehkan membayar sukarela.
Nantinya, panitia akan mene rapkan skema subsidi silang.
“Kami menggandeng komite sekolah. Dari survei animo siswa, 80 persen dari mereka sepakat diadakan wisuda,” imbuhnya.
Dirinya juga akan tetap mengupayakan jika permintaan siswa untuk melaksanakan wisuda tak terbendung.
Misalnya, dilakukan secara sederhana di masjid atau aula.
“Yang penting tetap ada penghargaan untuk anak,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan kebijakan yang tertuang dalam surat edaran nomor 000.1.5/1506/ 1 01.5/2025 pada 6 Maret lalu bertujuan menyikapi keresahan masyarakat tingginya biaya wisuda yang mem beratkan orang tua siswa.
Khususnya yang berasal dari keluarga prasejahtera.
“Istilah kegiatan wisuda atau purnawiyata ditiadakan. Hanya kelulusan siswa dari SMA, SMK, dan SLB.” tegasnya dalam rilis di portal Disdik Provinsi Jatim pada 10 Maret lalu.
Aries meminta agar kelulusan dilaksanakan secara kreatif dan inovatif tapi tidak memberatkan orang tua.
Kecuali, ada donator yang menanggung biayanya secara sukarela.
Baca Juga: Empat Sekolah di Batu Belum Lakukan Finalisasi PDSS
Sementara itu, Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengaku kebijakan itu otomatis berdampak terhadap bisnis hotel.
Mengingat banyaknya kegiatan wisuda yang dilakukan di hotel Kota Batu.
Mulai dari hotel murah sampai yang mahal pasti kebagian jatah.
Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Selecta mengaku setidaknya ada lima kegiatan setiap tahunnya yang digelar di tempatnya.
“Saat ini ada dua kegiatan yang dibatalkan. Kami sudah laku kan pengembalian karena itu bukan kesalahan mereka,” pungkasnya. (iza/dre)
Editor : A. Nugroho