JUNREJO - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung berpotensi dibuka lagi.
Namun, itu hanya akan dilakukan setelah rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Batu membuat industri pengolahan sampah disana terealisasi.
Saat ini rencana itu dalam tahap perumusan.
Sayangnya, pendirian industri itu tidak termasuk yang akan dituntaskan dalam 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu Nurochman-Heli Suyanto.
“Kami butuh waktu lebih panjang. Sebab prosesnya lebih kompleks,” ujar pria yang akrab disapa Cak Nur itu.
Ya, penuntasan masalah sampah menjadi janji Nur-Heli untuk diselesaikan dalam 100 hari kerjanya.
Itu mereka tegaskan dalam rapat paripurna di gedung DPRD Kota Batu Selasa lalu (5/3).
Industri itu nanti akan membereskan tumpukan sampah di TPA Tlekung.
Sehingga, TPA yang sudah ditutup sejak 30 Agustus 2023 lalu itu bisa dibuka kembali.
Itu pun operasionalnya juga harus menunggu tumpukan sampah disana selesai tertangani dulu.
“Baru nanti dibuka kembali untuk menerima sampah lagi dari luar,” imbuhnya.
Cak Nur menyebut perlu kajian terkait volume sampah yang dapat diolah melalui perusahaan tersebut.
Sehingga, nantinya kapasitas pengolahannya bisa disesuaikan dengan produksi sampah harian di Kota Batu.
Untuk itu, perlu perlu perencanaan yang matang untuk itu.
Dia mengatakan akan mulai dengan pembuatan detail engineering design (DED), perumusan kebutuhan anggaran, hingga teknis realisasi pembangunan.
“Target pembukaan kembali TPA Tlekung masih kami pertimbangkan juga,” tegasnya.
Kendati begitu, Cak Nur menyampaikan operasional tempat pengolahan sampah reduce, reuse, dan recycle (TPS3R) akan tetap berjalan.
Meski TPA Tlekung mulai dibuka lagi nanti.
Sehingga, produksi sampah tiap desa dan kelurahan tetap akan diolah masing-masing TPS3R.
Dengan begitu, pengolahan sampah di TPA Tlekung bisa lebih optimal.
Lebih lanjut, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Persampahan dan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Vardian Budi Santoso mengatakan, produksi rata-rata sampah di Kota Batu mencapai 30 ton per hari.
“Kami tetap rutinkan sosialisasi dan edukasi pengurangan sampah dari rumah,” ujarnya.
Salah satunya melalui gerakan zero waste.
Tujuannya agar produksi sampah organik lebih mendominasi.
Sehingga, pengolahan sampah bisa dilakukan dengan cepat. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho