BATU - Sampah di TPS Pasar Induk Among Tani Batu kembali menumpuk.
Itu disinyalir karena pengangkutan yang tak rutin dilakukan setiap hari.
Pedagang yang geram, mengaku siap ditarik iuran untuk pengelolaan sampah di sana. Itu semata-mata agar sampah bisa diangkut setiap hari dan tak menyebabkan bau busuk.
Salah seorang pedagang lantai 1 zona 3 Johan Bambang Irawan mengaku tak keberatan jika harus membayar iuran.
Sebab, ia sudah tak tahan dengan bau tak sedap yang selalu menjadi santapannya setiap hari.
Kondisi itu diperparah dengan musim hujan yang sedang berlangsung saat ini.
“Mungkin pedagang bisa iuran Rp 500 seperti dulu,” ujar pria 47 tahun itu.
Johan menyampaikan bila tumpukan sampah yang tak rutin diangkut setiap hari itu menimbulkan bau.
Bahkan, bau busuk itu tercium mulai zona satu hingga zona tiga bagian belakang atau sisi barat.
Itu juga banyak dikeluhkan pengunjung pasar.
Parahnya, cairan dari sampah yang busuk di sana mengalir ke rumah-rumah warga yang berada di belakang pasar. Kebetulan, Johan tinggal di belakang pasar tersebut.
“Air yang merembes ke belakang itu baunya sangat busuk dan tidak enak,” imbuhnya.
Johan berharap petugas tak menunggu sampah penuh baru kemudian diangkut.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Alfi Nurhidayat mengatakan akan memastikan kembali pengangkutan sampah dilakukan setiap hari.
Sebab, sejak awal ia berkomitmen untuk melakukan pengangkutan sampah di TPS Pasar Induk Among Tani setelah proses pemilahan sampah.
Alfi menyebut produksi sampah harian di sana hanya sekitar satu ton saja.
”Kami minta tim lapangan untuk memastikan sampah dipilah, diangkut, dan bersih hari itu juga,” ujarnya.
Dari pantauan wartawan Jawa Pos Radar Batu kemarin (11/2) beberapa pedagang pasar pagi juga membuang sampah di TPS pasar induk.
Selain itu, warga sekitar juga membuangnya di sana. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana