BATU - Komoditas kakao mulai dilirik petani di Kota Batu.
Bahkan, Desember lalu sudah ada 2,4 ribu pohon kakao yang ditanam.
Bisa dibilang itu berkat salah seorang petani yang berhasil membuktikan produktivitasnya meski berada di dataran tinggi.
Selain itu, harga kakao yang cukup mahal menjadi alasan lainnya.
Pembina Kelompok Tani Sumber Urip Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo Suwandi mengatakan harga biji kakao saat ini cukup mahal.
Yakni sudah di atas Rp 100 ribu per kilogramnya.
Menurutnya, harga biji kakao cukup stabil bahkan cenderung terus meningkat.
Dia menyebut harganya masih berkisar Rp 30 ribu per kilogram pada 2018 lalu.
“Saya menduga itu karena produksi biji kakao turun. Sementara, permintaan relatif tetap,” ungkapnya.
Pria 62 tahun itu menilai menanam kakao susah-susah gampang.
Sebab, keberhasilannya sangat bergantung dengan cuaca.
Kakao cenderung cocok ditanam di dataran rendah dengan suhu yang tidak terlalu dingin.
Itulah yang membuat selama ini komoditas tersebut tidak begitu dilirik petani Kota Batu.
Mereka menganggap cuaca Kota Batu terlalu dingin dan tidak cocok untuk kakao.
Namun, Suwandi sudah membuktikan sendiri bila itu tidak benar.
Dia sudah menanam dua pohon kakao di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu.
Hasilnya, dua pohon itu bisa berbuah dengan kualitas yang baik.
Akhirnya, hasil tersebut ia sampaikan kepada instansi terkait.
Lantas dia diikutkan pelatihan tata cara bertani kakao di Jember.
”Dari situ ada bantuan 2,4 ribu bibit kakao yang berasal dari Sulawesi dari pemerintah,” ujarnya.
Kalau ditanam dalam satu lahan, 2,4 ribu bibit itu butuh tiga hektare lahan.
Namun, bibit kakao itu disalurkan ke sejumlah petani.
Sehingga, penanamannya tersebar.
Suwandi menyampaikan perawatan kakao tidak sulit.
Hanya perlu pemupukan saja yang teratur.
Terkait pupuk, kakao masuk sembilan komoditas yang mendapat jatah pupuk subsidi. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana