BATU - Sepanjang 2024 lalu ada 4.278 kendaraan yang mengakses layanan uji kir di UPT Pengujian Kendaraan Bermotor milik Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu.
Tentu tak semua kendaraan lolos uji.
Sebanyak 705 kendaraan harus melakukan pengujian ulang.
Itu lantaran ada salah satu komponen uji yang tak memenuhi standar.
Kepala UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Kota Batu Zam Zam Rahmawan mengatakan kebanyakan kendaraan yang tidak lolos uji kir disebabkan fungsi rem tak sesuai standar.
Untuk mengetahui fungsi rem, daya cengkramnya yang diukur.
Itu dilakukan dengan memacu kendaraan dengan kecepatan tertentu lantas direm.
“Ambang batas pengujian rem utama minimal sanggup menahan beban sebesar 60 persen dari bobot kendaraan dengan baik,” ujarnya.
Kebanyakan permasalahan rem ada pada kampas remnya yang waktunya ganti.
Dia menilai kondisi rem sangat mudah identifikasi pengguna kendaraan.
Sebab, efeknya bisa dirasakan.
Uji kir setidaknya harus dilakukan dua kali dalam setahun alias enam bulan sekali.
Sejauh ini jenis kendaraan yang paling rajin uji kir adalah pick up.
“Ada 18 jenis kendaraan yang kami uji disini (UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Kota Batu).
Yang berjenis pick up ada sebanyak 2.795 unit,” ujarnya.
Zam Zam menyampaikan uji kir akan diawali dengan pemeriksaan kelengkapan administrasi kendaraan.
Seperti STNK dan buku uji kir.
Kemudian baru dilakukan uji fisik.
Mulai dari sistem kemudi, pengereman, emisi karbon, cahaya lampu, hingga tingkat kebisingan.
Selain kendala rem, emisi juga kerap membuat kendaraan harus mengulang uji kir.
Uji emisi dilakukan dengan mengambil gas buang kendaraan.
Baca Juga: Pemkot Batu Minta Ramcek Dilakukan di Daerah Asal Bus
Di sana sudah tertera berapa standar atau batas normal uji emisi.
Uji emisi bertujuan menjaga lingkungan dengan memastikan kendaraan tidak menyumbang polusi berlebih.
Batas ambang emisi bisa dilihat dari beberapa indikator.
Contohnya, untuk mesin berbahan bakar bensin keluaran tahun 2007 ke bawah, kadar karbon monoksidanya tak boleh lebih dari 4,5 persen.
”Kalau emisi biasanya permasalahan ada di busi. Sehingga, pembakaran kurang maksimal,” bebernya. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana