BATU - Keterbatasan lahan parkir di Pasar Induk Among Tani jadi keluhan pedagang pasar pagi.
Itu lantaran jumlah pengunjung pasar pagi semakin ramai.
Setidaknya ada 35 ribu pengunjung setiap harinya.
Itu membuta area parkir selalu penuh dan sesak.
Apalagi ditambah keterbatasan petugas parkir dan keamanan.
Ketua Paguyuban Peda gang Pasar Pagi Rubianto mengatakan sebenarnya lahan parkir di Pasar Induk Among Tani cukup luas.
Itu jika dihitung dengan area parkir bagian belakang pasar.
Namun, area parkir bagian belakang tidak bisa digunakan ketika ope rasional pasar pagi.
Sebab, area tersebut digunakan untuk pedagang berjualan.
Tak pelak hanya area parkir depan pasar saja yang bisa digunakan.
Dengan jumlah kunjugan yang semakin ramai luas lahan parkir depan pasar tak lagi representatif.
Setiap harinya kendaraan tampak penuh di sana.
Cenderung tidak rapi lantaran parkir berbanjarbanjar.
“Apalagi di sana juga ada kendaraan pedagang juga,” ungkapnya.
Itu pun Rubianto menilai jarak parkiran ke lapak mereka cukup jauh.
Beberapa pe dagang khususnya perempuan terpaksa harus sewa kuli panggul untuk mengangkut barang dagangan mereka.
Tentu saja jasa tersebut tidak gratis.
“Setiap kali angkut kuli panggul mematok imbalan
Rp 510 ribu,” imbuhnya.
Rubianto menambahkan keberadaan petugas parkir dan keamanan juga perlu ditambah.
Pasalnya, banyak pembeli yang harus susah payah mengeluarkan kendaraannya sendiri.
Itu lantaran kendaraannya terjebak di antara padatnya parkiran.
Ia khawatir itu akan menjadi alasan pembeli malas datang ke pasar pagi.
Sementara itu, Kepala UPT Pasar Induk Among Tani Batu Gadis Dewi Primandhasari mengatakan solusi satu satunya adalah menambah volume parkir.
Salah satunya dengan melebarkan akses parkir ke area pasar sayur.
Namun, hal itu perlu mengubah sekat tangga pembatas yang ada.
“Kita masih me nunggu berita acara penye rahan baru bisa mengubah bangunan yang ada di pasar,” pungkasnya. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana