KOTA BATU – Meski Pasar Induk Among Tani sudah beroperasi selama dua bulan, namun sebanyak 1.097 pedagang kaki lima (PKL) Pasar Pagi masih menetap di Stadion Gelora Brantas.
Hingga kemarin informasi penempatannya masih menanti kepastian.
Salah satu PKL Pasar Pagi Supiyanto mengatakan, hingga saat ini masalah perpindahan pedagang belum ada kepastian dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Batu.
"Padahal pedagang ya butuh kejelasan terkait sebenarnya tempat untuk PKL Pasar Pagi di Pasar Induk Among Tani cukup atau tidak," jelasnya.
Pedagang sayur asal Blitar yang kini menetap di Desa Pesanggrahan ini berharap, saat seluruh PKL Pasar Pagi pindah ke Pasar Induk, Diskoperindag maupun UPT Pasar memikirkan skema kiosnya.
Misal, lapak setiap pedagang paling sedikit ukurannya 1,5 meter.
"Nah, sebenarnya lebih enak kios permanen. Karena, skema bongkar pasang itu pasti butuh biaya lebih untuk bayar pekerja yang mengangkat meja dan sayur," katanya.
Ia menyebut, sekitar dua tahun lalu bayar ongkos pengangkut minimnya sejumlah Rp 10 ribu.
Namun, sekarang sudah Rp 15 ribu untuk dua kali pengangkutan.
"Ya, kami cuma berharap penempatan kios PKL Pasar Pagi layak. Kalau bisa permanen (tidak bongkar pasang). Tapi, keputusan kembali lagi kepada pihak terkait," jelasnya kemarin (6/12).
Pria yang akrab disapa Yanto ini juga mengaku bahwa sebenarnya mayoritas pedagang sudah nyaman berada di Stadion Gelora Brantas.
"Pedagang sangat betah berada di sini. Soalnya pelanggan sudah tau semuanya. Tapi kan stadion ini harus dibangun kembali. Jadi kita nurut saja ke depannya seperti apa," beber dia.
Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL Pasar Pagi Rubianto mengatakan, pendapat setiap pedagang pasti bisa berbeda dengan yang lainnya.
Ada yang betah (ingin menetap) tetapi juga banyak ingin cepat-cepat pindah.
"Sekitar 2-3 hari lalu, tahapannya baru mulai verifikasi. Otomatis perpindahannya kapan masih menunggu pembahasan dengan Diskoperindag dan UPT Pasar," jelasnya.
Rubianto menerangkan, memindahkan 1.097 pedagang tentu tidak mudah.
Semuanya butuh waktu dan tahapan yang jelas.
Terkait lapak setiap PKL Pasar Pagi pun belum diukur.
"Kami pun tidak ingin buru-buru pindah sebelum persoalan sampah benar-benar tertangani. Sekarang kondisi sampah di Pasar Induk Kota Batu mulai menumpuk," tuturnya. (ifa/lid)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana