Pemkot Batu Fokus Cegah Anak Jadi Stunting

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi Stunting pada Anak
Ilustrasi Stunting pada Anak

BATU, RADAR BATU - Pemerintah Kota Batu memperkuat pencegahan stunting dengan menyasar anak yang belum mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi memiliki risiko. Intervensi dilakukan sebelum anak masuk kategori stunting.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu Hasanatul Mardiyah Hisyam mengatakan anak di bawah dua tahun (baduta) menjadi salah satu kelompok utama dalam pemantauan. Anak dengan pertambahan tinggi yang tidak sesuai harapan akan diperiksa lebih lanjut.

Baca Juga: Angkot Malang Kejepit Gara-Gara Trans Jatim, Sopir Ngaku Pendapatan Terjun Bebas

“Bagi anak yang belum terkena stunting, tetapi ada risiko dia akan diberikan Pangan Diet Khusus (PDK),” ujarnya.

PDK diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi anak. Pemberian tidak dilakukan secara seragam karena disesuaikan dengan kondisi medis dan kebutuhan masing-masing anak.

Baca Juga: H-1 Konser Pita Kita, Ini Informasi Lengkap Penukaran Tiketnya

Intervensi juga menyasar kelompok ibu. Ibu hamil dengan kondisi kurang energi kronis (KEK) menjadi salah satu sasaran. Begitu pula ibu menyusui yang memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

“PDK juga diberikan kepada ibu menyusui bayi dengan BBLR,” kata Hasanatul. Selain pemenuhan nutrisi, Dinkes memperkuat pengetahuan orang tua. Edukasi mengenai pola makan dan pemberian makanan tambahan (PMT) dilakukan melalui posyandu.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Batu 29 September: Berkabut Dini Hari, Suhu Puncak 24 Derajat Menjelang Siang

Pendampingan juga dikembangkan melalui kelas Pos Gizi Penanganan Stunting (Pozting). Tahun lalu kegiatan tersebut dilaksanakan di Kelurahan Temas. Tahun ini, Desa Junrejo dan Pesanggrahan menjadi lokasi fokus program Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (P3S).

“Setiap pertemuan, orang tua diberi pendampingan. Khususnya dalam menyiapkan makanan yang bergizi,” jelas Hasanatul.

Baca Juga: Jadwal Salat Kota Batu 29 September 2026

Pendekatan tersebut dilakukan karena stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Kondisi kesehatan, pola pengasuhan, dan lingkungan juga dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

Pemantauan sejak dini menjadi penting karena anak yang menunjukkan risiko dapat segera mendapatkan intervensi. Dengan begitu, penanganan tidak menunggu sampai gangguan pertumbuhan semakin berat.

Baca Juga: Jioo Coffee & Eatery Batu, Bukan Cuma Tempat Ngopi, Ada Nasi Cumi hingga Paru Balado

Program tersebut menjadi bagian dari P3S yang sepanjang 2026 mendapat alokasi anggaran Rp1,72 miliar. Pemerintah juga memperkuat dasar kebijakan melalui Peraturan Wali Kota Batu Nomor 20 Tahun 2026 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting.

Kenaikan prevalensi stunting dari 10,39 persen pada Februari menjadi 12,75 persen pada Agustus menjadi catatan penting. Pemantauan kelompok berisiko menjadi salah satu titik yang menentukan apakah intervensi mampu mencegah kasus baru. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
stunting kota batu dinkes kota batu