Jangan Tunggu Parah, Kenali Tanda Gangguan Jiwa

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:30 WIB
PENANGANAN: Petugas Dinsos melakukan penjemputan terhadap ODGJ yang kambuh di wilayah Kelurahan Temas, Kecamatan Batu beberapa waktu lalu. (DINSOS KOTA BATU FOR RADAR BATU)
PENANGANAN: Petugas Dinsos melakukan penjemputan terhadap ODGJ yang kambuh di wilayah Kelurahan Temas, Kecamatan Batu beberapa waktu lalu. (DINSOS KOTA BATU FOR RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU – Gangguan tidur, perubahan perilaku, dan mulai menarik diri dari lingkungan bisa menjadi tanda seseorang membutuhkan bantuan kesehatan jiwa. Masyarakat diminta tidak menunggu kondisi semakin berat untuk mencari pertolongan.

Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu Dewi Kartika mengatakan masyarakat sudah memiliki akses layanan kesehatan jiwa. Pemeriksaan dapat dimulai melalui puskesmas dan dilanjutkan dengan rujukan ke rumah sakit bila diperlukan.

“Menurut kami, peran pemerintah sudah mencukupi. Tinggal digencarkan lagi sosialisasi kepada masyarakat untuk penanganan,” ujarnya.

Baca Juga: Dari Abadi Nan Jaya Hingga Na Willa, Ini 25 Film Panjang yang Lolos Seleksi Tahap 1 FFI 2026 - Radar Batu

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karsa Husada dr Sisi Artayasuinda mengatakan gangguan yang ditangani cukup beragam. Mulai gangguan kecemasan, depresi, bipolar, hingga skizofrenia.

Pada gangguan kecemasan dan depresi, pasien umumnya masih mampu membedakan kenyataan. Terapi perilaku dan terapi kognitif dapat diberikan untuk membantu mengelola pikiran, emosi, dan tekanan hidup.

Perubahan pola hidup juga penting. Pasien dianjurkan cukup tidur, makan teratur, berolahraga, melakukan aktivitas positif, serta membuka ruang komunikasi dengan orang terdekat.

Baca Juga: BREAKING NEWS! Eks Kepala UPT Pasar Batu Agus Suyadi Resmi Tersangka Korupsi Pasar Among Tani - Radar Batu

Namun, ketika kondisi semakin berat, penanganan medis mungkin diperlukan. Misalnya ketika gangguan tidur sudah mengganggu aktivitas harian.

Jika respons terhadap terapi belum memadai, tindakan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) dapat menjadi salah satu pilihan sesuai indikasi medis.

Untuk gangguan psikotik seperti skizofrenia, dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam pengobatan. Keluarga perlu membantu memastikan pasien patuh mengonsumsi obat dan menghindari tekanan yang dapat memperburuk kondisi.

Baca Juga: Alya Resmi Lulus dari JKT48, Begini Proses Graduation yang Dilalui - Radar Batu

Pasien juga dapat diarahkan mengikuti aktivitas produktif sesuai kemampuannya. Berkebun, beternak, maupun kegiatan ringan dapat membantu menjaga rutinitas.

Kebutuhan terhadap layanan tersebut terlihat dari peningkatan kunjungan Poli Jiwa RSUD Karsa Husada. Sepanjang Januari-Juni 2026, sebanyak 732 pasien mendapat penanganan.

Jumlah itu meningkat 52,5 persen dibandingkan periode sama 2025 yang mencapai 480 pasien. Rata-rata kunjungan harian juga naik dari sekitar 10 pasien menjadi 11-15 pasien.

Baca Juga: Dari Abadi Nan Jaya Hingga Na Willa, Ini 25 Film Panjang yang Lolos Seleksi Tahap 1 FFI 2026 - Radar Batu

Dewi menegaskan keluarga memiliki peran penting dalam proses pengobatan. Perubahan perilaku tidak seharusnya dianggap sepele.

“Dukungan keluarga juga diperlukan selama proses pengobatan,” katanya.

Dengan mengenali tanda lebih awal, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisi. Akses pertolongan juga tidak harus langsung dimulai dari rumah sakit, tetapi dapat melalui puskesmas terdekat.

Editor : Fajar Andre Setiawan
kesehatan jiwa Poli Jiwa Perubahan Perilaku gangguan tidur kesehatan