Pasien Poli Jiwa Batu Didominasi Usia 20-40 Tahun

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:00 WIB
PENANGANAN: Petugas Dinsos melakukan penjemputan terhadap ODGJ yang kambuh di wilayah Kelurahan Temas, Kecamatan Batu beberapa waktu lalu. (DINSOS KOTA BATU FOR RADAR BATU)
PENANGANAN: Petugas Dinsos melakukan penjemputan terhadap ODGJ yang kambuh di wilayah Kelurahan Temas, Kecamatan Batu beberapa waktu lalu. (DINSOS KOTA BATU FOR RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU – Pasien usia 20-40 tahun mendominasi kunjungan Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karsa Husada Kota Batu. Dari 732 pasien yang ditangani sepanjang Januari-Juni 2026, kunjungan pasien remaja tercatat kurang dari satu persen.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUD Karsa Husada dr Sisi Artayasuinda mengatakan gangguan yang ditangani cukup beragam. Di antaranya gangguan kecemasan, depresi, bipolar, hingga skizofrenia.

Tekanan hidup menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan pada pasien. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pikiran, emosi, tidur, hingga aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Descendants of the Sun Akan Diadaptasi Jadi Film Indonesia, Gaet Reza Rahadian dan Dian Sastro - Radar Batu

“Pasien dengan gangguan kecemasan dan depresi biasanya masih mampu membedakan kenyataan,” jelas Sisi.

Penanganan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Terapi perilaku dan terapi kognitif dapat diberikan untuk membantu pasien mengelola pikiran, emosi, dan tekanan yang dihadapi.

Perubahan pola hidup juga menjadi bagian dari penanganan. Pasien dianjurkan berolahraga, memiliki aktivitas positif, menjaga pola tidur, makan teratur, serta membangun komunikasi dengan orang terdekat.

baca Juga: 23 Hari Lagi Menuju Konser Pita Kita, Bundling Couple Ticket Kembali Dijual Dengan Stok Terbatas - Radar Batu

Pada kondisi yang lebih berat, dokter dapat memberikan terapi obat. Terutama apabila gangguan sudah menyebabkan masalah tidur atau menghambat aktivitas harian.

Sementara itu, skizofrenia tidak selalu harus ditangani di rumah sakit. Pasien dengan kondisi tersebut sebisa mungkin ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama melalui pengobatan dan pemantauan berkelanjutan.

“Penanganan di poli jiwa disesuaikan dengan jenis dan tingkat gangguan,” katanya.

Sisi menambahkan dukungan keluarga sangat diperlukan, terutama bagi pasien dengan gangguan psikotik. Kepatuhan mengonsumsi obat harus dipantau agar proses pengobatan berjalan optimal.

Baca Juga: Dari Abadi Nan Jaya Hingga Na Willa, Ini 25 Film Panjang yang Lolos Seleksi Tahap 1 FFI 2026 - Radar Batu

Pasien juga dapat diarahkan mengikuti kegiatan produktif sesuai kemampuannya. Berkebun, beternak, dan aktivitas ringan lainnya dapat menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.

Dukungan lingkungan juga penting. Keluarga, teman, komunitas, dan lingkungan terdekat dapat menjadi tempat bercerita ketika seseorang menghadapi tekanan berat.

Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu Dewi Kartika mengingatkan keluarga agar tidak mengabaikan perubahan perilaku.

Baca Juga: Descendants of the Sun Akan Diadaptasi Jadi Film Indonesia, Gaet Reza Rahadian dan Dian Sastro - Radar Batu

Menarik diri dari lingkungan, gangguan tidur, hingga munculnya halusinasi perlu menjadi tanda untuk mencari pertolongan. Pemeriksaan dapat dimulai melalui puskesmas sebelum dilanjutkan ke rumah sakit jika membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Data tersebut menunjukkan layanan kesehatan jiwa tidak hanya dibutuhkan kelompok usia tertentu. Namun, mayoritas pasien yang datang ke RSUD Karsa Husada saat ini berada pada rentang usia produktif. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
Poli Jiwa RSUD Karsa Husada kesehatan mental mental kesehatan