329 dari 384 ODGJ Didiagnosis Skizofrenia. Penderita Didominasi Laki-Laki, Sebanyak 209 Orang

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi penderita Skizofrenia (pinterest)
Ilustrasi penderita Skizofrenia (pinterest)

BATU, RADAR BATU - Sebanyak 384 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Jiwa (Simkeswa) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI di Kota Batu sepanjang Januari-Juli. Dari jumlah itu, 329 orang atau 85,68 persen didiagnosis skizofrenia. Mayoritas merupakan laki-laki, yakni 209 orang, sedangkan perempuan 120 orang.

Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Ichang Sarrazin mengatakan jumlah ODGJ tahun ini turun dibanding 2025 yang mencapai lebih dari 1.000 orang. Namun, dominasi skizofrenia tetap menjadi perhatian. Sebab, gangguan itu bersifat kronis.

“Gangguan skizofrenia dapat mengganggu kemampuan penderitanya menjalani aktivitas sehari-hari. Hingga Juli 2026, kami mencatat ada 329 orang menderita skizofrenia,” ujarnya. Dinkes juga mencatat sembilan orang mengalami psikotik akut, 17 orang mengalami depresi, 24 orang mengalami gangguan kecemasan, dan lima orang mengalami gangguan campuran.

Baca Juga: Indonesia Berangkat ke Asian Games 2026, Timnas Basket Siap Hadapi Raksasa Asia! - Radar Batu

Gangguan kejiwaan yang tidak segera ditangani dapat mengganggu fungsi sosial dan aktivitas sehari-hari. Pada kondisi tertentu, gangguan yang berat juga dapat meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri hingga percobaan bunuh diri.

Ichang mengatakan penderita ODGJ di Kota Batu telah mendapatkan penanganan melalui layanan kesehatan jiwa, termasuk poli jiwa di rumah sakit. Penanganan dini diperlukan agar gejala dapat dikendalikan dan penderita tetap mampu menjalankan fungsi sosialnya.

“Penderita gangguan jiwa sudah mendapat penanganan di poli jiwa rumah sakit,” katanya. Selain penanganan medis, Dinkes memperkuat upaya promotif dan preventif. Edukasi kepada masyarakat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental. Di samping itu, sekaligus mengurangi stigma terhadap penderita.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Salat Lima Waktu Kota Batu 6 September 2026 - Radar Batu

Stigma masih menjadi salah satu hambatan penanganan. Penderita dan keluarga terkadang menunda mencari pertolongan karena takut mendapat label negatif dari lingkungan. Karena itu, masyarakat didorong memahami bahwa gangguan jiwa membutuhkan penanganan, bukan penghakiman.

“Upaya preventif yang dilakukan dengan deteksi dini berupa skrining atau pemeriksaan awal gejala stres dan kecemasan di puskesmas, posyandu, sekolah, dan tempat kerja,” jelas Ichang. Pemkot Batu juga menyediakan layanan psikologis klinis di Puskesmas Batu dan Puskesmas Sisir.

Layanan itu ditujukan bagi warga yang mengalami tekanan psikologis atau persoalan emosional. Fasilitas itu sekaligus untuk mencegah gejala stres agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat. Upaya tersebut menjadi penting karena penanganan gangguan jiwa tidak hanya bergantung pada layanan rumah sakit.

Baca Juga: 69 Sapi di Kota Batu Terkena Penyakit LSD - Radar Batu

Deteksi sejak awal dapat menjadi pintu masuk agar warga bisa konseling atau penanganan sesuai kebutuhan. Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Dewi Kartika menilai data gangguan jiwa perlu dipetakan lebih detail. Ia berencana mengagendakan rapat dengar pendapat dengan Dinkes untuk mengetahui penyebab, sebaran, dan strategi penanganannya.

“Kami segera mengagendakan hearing dengan Dinkes untuk masalah gangguan jiwa ini,” ujarnya. Dewi juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dan lingkungan. Menurutnya, persoalan keluarga dan tekanan dari lingkungan sekitar dapat menjadi faktor yang memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Karena itu, dukungan emosional dari keluarga sangat dibutuhkan selama proses penanganan. Sinergi juga perlu dibangun hingga tingkat lingkungan. Ketua RT/RW, pemerintah desa dan kelurahan, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat dinilai memiliki peran mengenali perubahan perilaku warga dan mengarahkan mereka mencari pertolongan.

Dengan jumlah penderita yang masih mencapai ratusan, persoalan kesehatan jiwa di Kota Batu tidak cukup ditangani setelah seseorang masuk kategori ODGJ. Deteksi dini, akses layanan psikologis, serta dukungan keluarga dan lingkungan menjadi kunci agar gangguan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
Skizofrenia dinas kesehatan dinkes odgj kesehatan