16 Dokter dan Bidan Diterjunkan ke Desa, Kota Batu Ubah Strategi Cegah Stunting

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:00 WIB
CEGAH STUNTING: Sejumlah ibu dan anak hadir dalam kegiatan Posyandu di Desa Oro-Oro Ombo beberapa waktu lalu.
CEGAH STUNTING: Sejumlah ibu dan anak hadir dalam kegiatan Posyandu di Desa Oro-Oro Ombo beberapa waktu lalu.

 

BATU, RADAR BATU – Pemerintah Kota Batu mulai mengubah pendekatan penanganan stunting. Jika sebelumnya fokus pada pemberian makanan tambahan, kini layanan kesehatan diperkuat hingga tingkat desa dan kelurahan.

Sebanyak 16 dokter telah diterjunkan melalui program Unit Pelayanan Kesehatan Desa dan Kelurahan (UPKDK). Mereka bertugas mendampingi ibu hamil, bayi, dan balita agar gangguan pertumbuhan dapat dideteksi lebih dini.

BACA JUGA: Rumah Makan Mesir Batu, Sajikan Nasi Kebuli hingga Rawon dalam Satu Tempat

"Keberadaan dokter di desa akan membuat pelayanan kesehatan dasar lebih mudah dijangkau masyarakat," kata Wali Kota Batu Nurochman.

Selain dokter, bidan tetap menjadi ujung tombak pendampingan kesehatan ibu dan anak. Mereka melakukan pemantauan rutin terhadap kehamilan, tumbuh kembang balita, hingga edukasi gizi keluarga.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Aditya Prasaja, pendekatan ini dipilih karena stunting tidak hanya dipengaruhi kekurangan makanan, tetapi juga sanitasi, pola asuh, serta tingginya risiko penyakit infeksi.

BACA JUGA: Prevalensi Stunting Kota Batu Turun Jadi 10 Persen, Pemkot Kejar Target Satu Digit

Sebagai pelengkap, Dinkes menjalankan Program Kelas Pos Gizi Penanganan Stunting (Pozting) yang menyasar bayi di bawah usia dua tahun. Seluruh riwayat kesehatan peserta dipantau melalui sistem Integrasi Layanan Primer (ILP).

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap mampu mencegah munculnya kasus stunting baru sekaligus mempercepat penurunan prevalensi hingga di bawah 10 persen. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
deteksi dini kesehatan ibu-anak stunting