BATU, RADAR BATU – Pemerintah Kota Batu mengubah strategi penanganan stunting dengan memperkuat intervensi sejak masa kehamilan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu kini memprioritaskan pendampingan ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK) maupun anemia untuk mencegah lahirnya bayi berisiko stunting.
BACA JUGA: Wisata Pulau Lusi Sidoarjo, Camping Ground Alami di Tengah Sungai Porong
Administrator Ahli Muda Dinkes Kota Batu Emi Kusrilowati mengatakan ibu hamil dengan kondisi kurang gizi memiliki risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
"Ibu hamil yang kurang gizi berisiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah," katanya.
Menurut Emi, bayi dengan berat lahir rendah memiliki peluang lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan.
BACA JUGA: Nasi Pecel Mak Tum Jadi Langganan Sarapan di Alun-Alun Batu, Seporsi Mulai Rp6 Ribuan
Karena itu, Dinkes menargetkan setiap bayi lahir dengan berat minimal 2,5 kilogram dan panjang badan sedikitnya 48 sentimeter melalui pendampingan gizi selama kehamilan.
Selain itu, orang tua juga diminta rutin membawa balita ke Posyandu agar pertumbuhan anak dapat dipantau setiap bulan sehingga potensi stunting dapat diketahui lebih cepat. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan