BATU, RADAR BATU - Hulu Sungai Brantas menghadapi ancaman baru. Ancamannya bukan hanya sedimentasi dan limbah domestik. Namun, mikroplastik sudah ikut mencemari sumber air utama Malang Raya tersebut. Temuannya mencapai 19 partikel per 100 liter air. Kondisi itu memaksa Pemkot Batu memperkuat pengendalian pencemaran dari hulu hingga hilir.
Temuan itu berasal dari uji kualitas air Environmental Green Society pada 2020. Pengujian dilakukan di tiga titik Malang Raya. Hasilnya menunjukkan pencemaran telah menjangkau kawasan hulu. Konsentrasi tertinggi ditemukan di Sengkaling. Angkanya mencapai 19 partikel per 100 liter air. Total Dissolved Solids (TDS) tercatat 453 miligram per liter.
BACA JUGA: Desa Wisata Rintisan di Kota Batu, Potensi Tersembunyi yang Belum Banyak Diketahui
Di Klojen ditemukan 15 partikel per 100 liter. Nilai TDS mencapai 505 miligram per liter. Sementara di kawasan hulu Bumiaji ditemukan 10 partikel per 100 liter. Tingkat keasaman air berada pada pH 8,59. Data itu menjadi alarm serius. Sebab, Brantas menjadi sumber air baku jutaan warga di Malang Raya.
Kerusakan kualitas air di hulu akan berdampak hingga wilayah hilir. Merespons kondisi itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu menyiapkan dua strategi utama. Pertama, menekan Total Suspended Solids (TSS) melalui konservasi lahan pertanian. Kedua, memperketat pengolahan limbah domestik dan komersial di sepanjang daerah aliran sungai.
BACA JUGA: ICW Desak Prabowo Kaji Ulang Pengadaan 80 Ribu Pikap untuk Koperasi Desa
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Pemeliharaan Lingkungan, dan Pertamanan DLH Kota Batu Reni Widiastuti mengatakan pengendalian dimulai dari kawasan pertanian lereng Bumiaji. Rehabilitasi lahan kritis terus dilakukan. Infrastruktur konservasi tanah juga diperbanyak. “Kami menekan erosi agar sedimentasi tidak masuk ke badan air,” ujarnya.
Reni juga mendorong penggunaan teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya melalui pemanfaatan galiplak atau galengan plastik. Penggunaannya disesuaikan dengan ketentuan Permen LHK Nomor 23.
Langkah kedua menyasar sumber limbah domestik. Hotel dan penginapan di sepanjang aliran sungai diwajibkan mengoptimalkan sistem biofilter. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal juga terus diperkuat.
BACA JUGA: Wisata Sejarah Tersembunyi di Kota Malang, Kampung Ini Punya Museum Sendiri
Menurut Reni, infrastruktur tidak cukup. Perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi kunci. Edukasi agar warga tidak membuang sampah ke sungai terus digencarkan. “Kebersihan hulu hingga hilir harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
Sepanjang tahun ini, DLH menjalankan lima program pendukung. Mulai Kampung ProKlim, susur sungai bersama BPBD, edukasi lingkungan melalui Yayasan Zona Bening, hingga pembangunan IPAL permukiman bersama DPKP.
Namun, para akademisi menilai persoalan Brantas jauh lebih kompleks. Guru Besar Biokonservasi dan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Husein Latuconsina mengingatkan penurunan kualitas air akan mengubah keseimbangan ekosistem sungai.
BACA JUGA: Berangkat Tak Izin Orang Tua, 2 Remaja Ditemukan Meninggal Saat Mendaki di Gunung Bismo
Biota sensitif akan menghilang. Mikroorganisme aerob ikut mati. Sebaliknya, bakteri anaerob berkembang lebih dominan. Kondisi itu memicu terbentuknya gas hidrogen sulfida yang menimbulkan bau busuk. “Kalau pencemaran terus terjadi, biota sungai akan mati atau berpindah,” tegasnya.
Kerusakan ekologi, lanjut Husein, sebenarnya mudah dikenali. Sungai sehat masih dihuni ikan wader, tombro, dan ikan mas. Ketika populasi didominasi ikan sapu-sapu dan lele, kualitas air patut dicurigai telah menurun.
Menurutnya, sumber pencemar di Brantas berbeda pada setiap daerah. Kota Batu didominasi residu pupuk kimia dan pestisida. Kota Malang lebih banyak dipengaruhi limbah permukiman. Sementara, wilayah kabupaten menghadapi tekanan dari aktivitas industri.
BACA JUGA: 5 Fakta Sumber Sirah, Hidden Gem Kolam Alami di Gondanglegi Malang
Yang paling mengkhawatirkan ialah akumulasi mikroplastik. Partikel itu dapat berpindah melalui rantai makanan. Fenomena tersebut dikenal sebagai biomagnifikasi. Akibatnya tidak berhenti pada sungai. Mikroplastik berpotensi masuk ke tubuh manusia.
Kandungan BPA dan ftalat di dalamnya dikaitkan dengan gangguan hormon, penurunan kesuburan, kerusakan sistem reproduksi, hingga meningkatnya risiko penyakit kronis. “Pada akhirnya, manusia memakan sampah yang dibuangnya sendiri,” ujar Husein.
Pakar Ekologi Perairan Unisma Hamdani Dwi Prasetyo menilai pengendalian pencemaran harus berbasis penegakan baku mutu air. Ia juga mendorong pemanfaatan tanaman air Vallisneria sebagai media fitoremediasi untuk menyerap cemaran organik.
BACA JUGA: Kualitas Air Sub DAS Brantas Dipantau Intensif
Menurutnya, masa depan Kota Batu bergantung pada kualitas alamnya. Jika kawasan hulu terus rusak, ancaman krisis air bersih tinggal menunggu waktu. “Alam adalah modal utama Batu. Sungai jangan dijadikan tempat sampah,” pungkasnya. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan