BATU, RADAR BATU - Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kota Batu memastikan seluruh desa di Kota Batu telah memiliki tenaga bidan yang siap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, termasuk pendampingan persalinan.
Ketua IBI Kota Batu Srie Fatimah Yuliastuty menegaskan bahwa meskipun sebaran bidan tidak merata antarwilayah, akses layanan kebidanan tetap dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat hingga tingkat desa.
BACA JUGA: Nekat Pilih BBM Murah Justru Bikin Boros Roda Dua
“Di setiap desa sudah ada bidan yang bersiaga memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu menunjukkan seluruh persalinan yang tercatat pada tahun terakhir, yakni sebanyak 2.697 kasus, telah ditangani tenaga kesehatan profesional.
Capaian tersebut sekaligus menandai semakin berkurangnya ketergantungan masyarakat terhadap praktik persalinan nonmedis. Bahkan, angka persalinan yang ditangani dukun bayi dilaporkan telah mencapai nol kasus.
BACA JUGA: Bersaing dengan Messi dan Mbappé, Erling Haaland Tampil Menggila di Piala Dunia 2026
Dari total persalinan tersebut, Kecamatan Batu menjadi wilayah dengan jumlah kelahiran tertinggi sebanyak 1.302 kasus. Disusul Kecamatan Bumiaji dengan 735 persalinan dan Kecamatan Junrejo sebanyak 660 persalinan.
Meski jumlah bidan lebih banyak terkonsentrasi di Kecamatan Batu karena keberadaan sejumlah rumah sakit besar, IBI memastikan kondisi tersebut tidak mengurangi kualitas pelayanan di wilayah pinggiran.
BACA JUGA: Tiga Perda Strategis Kota Batu Akhirnya Diketok Palu
Sementara itu, Pemerintah Kota Batu terus memperkuat layanan kesehatan hingga tingkat desa melalui program Satu Desa Dua Dokter.
Wali Kota Batu Nurochman menjelaskan program tersebut tidak hanya menempatkan dokter di desa, tetapi juga didukung tenaga kesehatan lain seperti perawat dan bidan untuk memperkuat pelayanan kesehatan dasar masyarakat.
BACA JUGA: 50 Kontingen Ngarak Banteng di Songgoriti, Kota Batu
“Dokter yang bertugas di desa nantinya didampingi perawat dan bidan sehingga layanan kesehatan bisa lebih optimal,” ujarnya.
Melalui kombinasi tenaga medis tersebut, pemerintah berharap pelayanan kesehatan ibu dan anak dapat semakin merata serta mampu menekan berbagai risiko kesehatan di tingkat desa. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan