Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

175 Anak di Kota Batu Berhasil Lulus dari Stunting

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 20 November 2025 | 18:16 WIB
Grafis Angka Pravelensi Stunting di Kota Batu
Grafis Angka Pravelensi Stunting di Kota Batu

BATU - Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dalam menekan angka stunting menunjukkan hasil signifikan. Berdasarkan laporan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), jumlah anak stunting pada akhir 2024 tercatat 1.270 anak. Tahun ini angka itu turun menjadi 1.095 anak. Artinya, 175 anak dinyatakan lulus dari stunting.

Penurunan ini juga tercermin dari prevalensi stunting yang turun dari 11,8 persen menjadi 10,49 persen. Meski bergerak positif, capaian tersebut dinilai masih perlu percepatan.

Administrator Ahli Muda Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu Emi Kusrilowati menjelaskan salah satu pemicu utama stunting yakni kekurangan asupan gizi pada ibu hamil.

Kondisi ini membuat ibu mengalami kekurangan energi kronik (KEK) atau kekurangan zat besi yang memicu kelahiran bayi dengan berat badan rendah (BBLR). “Idealnya bayi lahir dengan berat minimal 2,5 kilogram dan panjang 48 sentimeter,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pola asuh dan kontrol kesehatan rutin. Banyak kasus stunting tidak terpantau karena orang tua jarang membawa balita ke Posyandu. “Jika ada anak yang tidak datang ke Posyandu, kami melakukan jemput bola ke rumah,” kata Emi.

Tantangan lain ialah perilaku balita yang picky eater atau susah makan. Karena itu, variasi dan keseimbangan pola makan perlu dijaga. Termasuk pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Selain faktor asupan gizi, beberapa kasus stunting juga dipicu beberapa alasan.

Mulai dari penyakit bawaan, riwayat kelahiran kecil dari ibu, atau infeksi berulang. Kondisi cuaca ekstrem, terutama udara dingin juga membuat bayi lebih rentan sakit sehingga menghambat pertumbuhan.

Untuk mempercepat penurunan stunting, dia menjalankan Program Pos Gizi Penanganan Stunting (Pozting) bagi bayi di bawah dua tahun (baduta). Intervensi dilakukan melalui pemeriksaan darah, inisiasi menyusu dini, pemberian makanan bayi dan anak (PMBA), serta edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Kami melibatkan dokter spesialis anak untuk pendampingan intensif. Pemantauan berat dan tinggi badan dilakukan setiap minggu selama sekitar 10 minggu hingga anak dinyatakan lulus stunting,” jelas Emi.

Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan program bergantung pada kerja sama orang tua. Mulai dari pemberian MP-ASI bergizi, kepatuhan kontrol kesehatan, hingga kebersihan lingkungan rumah.

Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto mengingatkan meski membaik, capaian prevalensi belum optimal. Data sepanjang tahun menunjukkan fluktuasi cukup tajam. “Pada Februari lalu, jumlah anak stunting sempat naik menjadi 1.120 anak,” ujarnya. Ia meminta Dinkes terus memperkuat pendampingan agar lebih banyak balita yang dapat lulus dari status stunting. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#bblr #dinkes #kota batu #pemkot batu