BATU - Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Sisir menilai kasus keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) basi hanyalah opini pribadi. Pasalnya tidak ada bukti konkrit adanya keracunan akibat hal itu. Namun, saat ini uji laboratorium sedang dilakukan untuk memastikan penyebab polemik tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, ada 11 siswa SMP Negeri 1 Batu yang muntah-muntah setelah mengonsumsi MBG pada 25 september lalu. Selain itu, SMAN 1 Batu juga mengeluhkan kondisi lauk dan sayur yang telah basi dan tidak layak makan. Bahkan, ompreng atau tempat makan pun dinilai masih bau amis.
Salah seorang petugas SPPG Kelurahan Sisir yang enggan disebut namanya menilai keracunan MBG hanya opini pribadi. Dia menyayangkan sejumlah pihak yang memberikan keterangan yang menurutnya tidak berdasar itu. Sebab, belum ada bukti riil yang menunjukkan penyebab belasan siswa SMPN 1 Batu itu muntah-muntah.
“Kalau sudah ada hasil dari uji laboratorium silakan disampaikan,” ucapnya saat dikonfirmasi 26 September lalu. Pihaknya mengaku sudah mengirimkan sampel makanan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk uji laboratorium. Dia menambahkan ada potensi faktor yang disebabkan oleh siswa.
Di antaranya penambahan sejumlah bumbu seperti bon cabe dan penyedap rasa dalam paket MBG yang dibagikan SPPG. “Tim kami sempat menemukan bungkusnya,” bebernya. Setelah peristiwa itu, SPPG Kelurahan Sisir kini berhenti beroperasi. Itu sekaligus imbas pernyataan sikap sejumlah sekolah yang menola distribusi MBG untuk sementara waktu.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja mengaku belum bisa menindaklanjuti kasus tersebut dengan uji laboratorium. Sebab, sampel yang dikirimkan pihak SPPG tidak adequate alias tidak memadai. Seharusnya SPPG mengirimkan sampel makanan minimal seberat 250 gram per jenis masakan.
“Tapi yang dikirim beberapa waktu lalu hanya satu sendok teh saja. Sehingga, kami tidak bisa menggunakan sampel tersebut untuk uji laboratorium,” ungkapnya. Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) itu tak bisa memastikan keamanan makanan tersebut.
Termasuk jika statemen salah satu petugas SPPG Kelurahan Sisir benar, yakni ada siswa yang menambahkan bon cabe dan penyedap rasa secara berlebihan dalam paket MBG tersebut. Yang jelas Adit menegaskan pembangunan SPPG tidak mensyaratkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sejak awal.
“Itu mengapa para juru masak juga belum mendapatkan pelatihan penjamah makanan,” imbuhnya. Padahal, itu penting untuk memastikan keamanan makanan yang didistribusikan kepada siswa. Adit menyampaikan bila BGN baru meminta SPPG mengurus SLHS pada 25 September lalu setelah marak kasus keracunan MBG yang mencuat.
“Besok (hari ini), kami akan menggelar pertemuan dengan seluruh dapur SPPG di Kota Batu untuk membahas masalah ini,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho