BATU - Isu kesetahan mental di kalangan anak-anak perlu perhatian lebih. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu ada tujuh anak yang terkonfirmasi mengalami gangguan kesehatan mental sepanjang Januari hingga Agustus lalu.
Trennya cenderung masih sam seperti tahun lalu. Pada 2024 lalu DP3AP2KB Kota Batu mencatat adanya sembilan kasus anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, data tersebut benar-benar tidak merepresentasikan kondisi riil terkait kesehatan mental anak-anak di Kota Batu.
Sebab, jumlah kasus yang dilaporkan dipercaya hanya sebagian kecil saja. Itu dilihat dari sejumlah penyebab gangguan kesehatan mental yang paling banyak terjadi. Di antaranya salah pola asuh hingga perceraian orang tua. Sementara, pengidapnya kebanyakan anak-anak berusia di atas 10 tahun atau usia SMP.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Kota Batu Amida Yusiana mengatakan bentuk gangguan mental yang paling banyak dialami anak-anak yakni sulitnya bersosialisasi dan mengontrol emosi. Hal itu disinyalir lantaran pola asuh yang salah. Misalnya sering membanding-bandingkan, membentak, dan jarang mengapresiasi.
“Itu membuat anak merasa tidak disayang,” ujarnya. Lebih jauh, Amida menyampaikan ruang komunikasi antara anak dengan orang tua harus dibangun sebaik mungkin. Banyak orang tua yang mengaku sibuk bekerja hingga akhirnya tidak memiliki waktu untuk itu. Padahal anak selalu membutuhkan ruang untuk bercerita dan didengarkan.
“Yang paling parah ada yang sampai menyakiti diri sendiri atau self injury imbas dari perceraian orang tua,” bebernya. Sejauh ini Amida terus berupaya agar gangguan kesehatan mental pada anak semakin terlacak dan tertangani dengan baik. Itulah mengapa sosialisasi terus dia lakukan secara masif.
Sebab, orang tua yang akhirnya melaporkan kondisi anaknya ke DP3AP2KB juga berkat sosialisasi. Kendati harus diakui, jumlahnya masih sangat sedikit. Untuk itu, perlu ada upaya yang lebih ekstra untuk membangun kesadaran bersama. Khususnya bagi para orang tua. Dengan begitu layanan konseling atau pendampingan psikologis bisa terakses masyarakat.
Kepala Program Studi (Kaprodi) Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang (UM) Muslihati mengungkapkan faktor terbesar pemicu gangguan kesehatan mental berasal dari dua faktor. Yakni faktor internal dari keluarga dan eksternal dari sekolah atau lingkungan sekitar. Keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga mental anak agar tetap stabil.
“Sebab anak merupakan produk dari keluarga,” tuturnya. Bentuk perhatian dan kasih sayang yang penuh akan membentuk pribadi anak yang kuat dan percaya diri. Untuk ilmu parenting merupakan kunci untuk membentuk mental dan karakter anak yang sehat. Paling tidak orang tua harus bisa mengambil peran sebagai tempat curhat atau berkeluh kesah.
Apabila ruang itu tak didapatkan, anak akan berlari ke arah yang salah. Salah satunya bermain gadget secara berlebihan. Bahkan berpotensi lebih parah daripada itu. Muslihati menyebut anak-anak memang rawan mengalami gangguan mental. Itulah mengapa kondisi psikologis orang tua akan sangat memengaruhi jiwa anak.
Maka wajar jika disharmoni orang tua akan membuat kondisi psikologi anak menjadi drop. Sejauh ini akar masalahnya ada di sana. Pasalnya, dia mengatakan banyak fenomena turunan yang terjadi dari masalah kehadiran orang tua itu. Di antaranya anak dalam asuhan gadget, kecanduan permainan daring, dan media sosial.
“Awalnya memang membahagiakan. Namun lama-lama akan berubah menjadi adrenalin karena anak dituntut untuk terus memenuhi sesuatu yang dia mainkan,” terangnya. Padahal itu bukan suatu tuntutan yang harus dipenuhi. Akhirnya anak menjadi depresi ketika tidak bisa memenuhi tuntutan tersebut.
Ekspresi yang paling sering muncul yakni berkata kasar, tantrum, hingga memukul dirinya sendiri. Maka orang tua penting mengatur jadwal bermain gadget atau screen time sesuai umur anak. Muslihati meminta agar orang tua tidak memberikan gadget sebelum anak berusia tiga tahun.
Sementara, untuk anak usia 3-4 tahun idealnya diberikan waktu maksimal satu jam per hari. Selebihnya screen time maksimal selama 2-3 jam dalam sehari. “Selain menjaga kestabilan mental, juga dapat mengurangi risiko kerusakan kesehatan pada organ penglihatan,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho