Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kesehatan Mental Dominasi Laporan di Puspaga Kota Batu, Satu Klien Mendapat Rujukan ke RSJ Lawang

Fajar Andre Setiawan • Senin, 14 Juli 2025 | 17:14 WIB
Jumlah Perkara yang Ditangani Puspaga.
Jumlah Perkara yang Ditangani Puspaga.

BATU - Kasus kesehatan mental mendominasi laporan di Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) sepanjang Januari-Juni tahun ini. Dari 30 kasus yang dilaporkan, ada 7 perkara kesehatan mental yang diadukan. Baik dilaporkan melalui call center, penjangkauan, maupun datang secara langsung di Kantor Puspaga Kota Batu.

Dari hasil diagnosis psikiater dan dokter, gangguan mental yang diderita pelapor bermacam-macam. Mulai indikasi anxiety atau gangguan kecemasan, skizofrenia, hingga depresi. “Kami mendampingi pemeriksaan baik di psikiater maupun dokter,” tegas Lovita Siregar, Konselor Puspaga Kota Batu.

Satu di antaranya tujuh laporan, ada yang sampai mendapat rujukan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Rajiman Wediodiningrat Lawang, Kabupaten Malang lantaran depresi. Sayangnya rujukan itu tidak dipenuhi karena pihak keluarga tidak menghendaki. “Itu dialami remaja laki-laki berusia 17 tahun yang depresi akibat kekerasan dari ibunya saat usia 4 tahun,” ujarnya.

Selain itu, terdapat enam laporan berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Seperti speech delay, keterlambatan perkembangan, dan ada pula yang sebatas konsultasi saja. Masih berkaitan dengan anak-anak, Lovita menyebut ada juga lima laporan pengasuhan. “Biasanya ini dilakukan ibu muda yang masih bingung dalam pengasuhan,” tutur ibu satu anak itu.

Laporan lainnya berupa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual, permasalahan rumah tangga, kekerasan terhadap anak, serta kehamilan tidak diinginkan. “Untuk kehamilan tidak diinginkan yang kami tangani akhirnya berujung pernikahan. Kami mendampingi dalam permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama (PA),” ungkapnya.

Alumnus Psikolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menyebut jumlah laporan mengalami penurunan signifikan. Sebab, sepanjang 2024 lalu dia menangani 111 kasus. Jika dibandingkan dengan periode yang sama, setidaknya ada 55 kasus yang dilaporkan. Sedangkan, tahun ini hanya 30 laporan saja.

Kendati begitu, Lovita menegaskan jumlah laporan yang masuk tidak merepresentasikan angka kasus riil di lapangan. Sebab, masih banyak kasus-kasus yang tidak terlaporkan. Ini berkaitan dengan kesadaran dan literasi masyarakat. “Untuk itu, kami rutin melakukan sosialisasi untuk membangun literasi dan kepedulian masyarakat,” ucap Lovita.

Sebagai informasi, Puspaga Kota Batu masih memiliki satu psikolog, satu konselor, satu admin, dan satu koordinator admin. Total ada empat petugas. Meski minim SDM, layanan masih bisa terus dioptimalkan. Pasalnya, dia juga kerap mendapat bantuan SDM dari mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Malang.

(nj5/dre)

Editor : A. Nugroho
#puspaga #kesehatan mental #gangguan mental #rsj