Plafon Rumah Subsidi Diusulkan Naik hingga Rp 500 Juta

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 18:34 WIB
DOORSTOP: Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himperra Ari Tri Priyono (tengah) menjawab pertanyaan dari awak media di The Singhasari Hotel and Resort kemarin (10/10).
DOORSTOP: Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himperra Ari Tri Priyono (tengah) menjawab pertanyaan dari awak media di The Singhasari Hotel and Resort kemarin (10/10).

BATU, RADAR BATU - Tingginya harga lahan membuat program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) belum terealisasi di Kota Batu. Pengembang kesulitan menyediakan rumah bersubsidi yang sesuai batas harga program. Sementara, lahan murah semakin sulit ditemukan di daerah wisata tersebut.

Persoalan itu disoroti Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Ari Tri Priyono dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di The Singhasari Hotel dan Convention kemarin (10/10).

Ari menyebut, karakteristik Kota Batu menyerupai kawasan wisata premium. Ketersediaan lahan terbatas, sedangkan harganya terus melambung.

Kondisi tersebut menyulitkan pengembang membangun rumah dengan harga yang sesuai ketentuan FLPP.

“Memang sudah saya cek, Kota Batu nol untuk FLPP. Kita mau bikin FLPP itu kan ejeleknya belinya tanah di bawah Rp 250-300 ribu, tapi kalau di Kota Batu mana ada lahan segitu,” terangnya. Di sisi lain, daya beli Masyarakat lokal tidak selalu sebanding dengan harga properti di kawasan tersebut.

Baca Juga: Program Rumah Subsidi Diusulkan Berkonsep Rusun

Sementara itu, Sebagian lahan dikembangkan menjadi vila yang menyasar pendatang dan investor. Akibatnya, akses warga local terhadap rumah layak dengan harga terjangkau semakin menantang.

Himperra mengusulkan stimulus dan relaksasi kebijakan untuk daerah dengan harga tanah tinggi. Salah satu opsi yang diajukan ialah menaikkan batas harga rumah yang dapat memperoleh subsidi hingga kisaran Rp 400-500 juta.

Dengan skema tersebut, rumah di kawasan seperti Kota Batu berpeluang masuk dalam program subsidi. Kendati begitu, harga jualnya akan lebih tinggi dibandingkan rumah subsidi konvensional. Namun, usulan itu masih butuh pembahasan dan Keputusan pemerintah.

Baca Juga: Rumah Subsidi Kota Batu Terkendala Harga Tanah, Apersi Usulkan 100 Rumah Sewa di Aset Pemkot

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Bidang Internal dan Penjadwalan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia Novelin Silalahi menyoroti percepatan realisasi FLPP secara nasional. Hingga saat ini, realisasi program tersebut disebut mencapai sekitar 178 ribu unit dari target 350 ribu unit.

Kementerian PKP mendorong Himperra berperan aktif membantu pencapaian target tersebut. Sisa waktu tahun anggaran yang semakin pendek menjadi tantangan tersendiri. “Dengan sekitar dua bulan tersisa sebelum memasuki 2027, pemerintah berharap pengembang, kepala dinas, dan pemangku kepentingan lainnya segera merumuskan langkah konkret untuk mempercepat pembangunan serta penyaluran rumah subsidi,” pungkasnya. (ori/dre)

Editor : Aditya Novrian
FLPP Himperra dpp rakernas