BATU, RADAR BATU - Pemerintah Desa (Pemdes) Sidomulyo menjajaki kerja sama dengan Badan Karantina Indonesia untuk membuka akses layanan karantina bunga ekspor. Langkah ini disiapkan untuk memangkas biaya dan waktu pengiriman tanaman hias dari Kota Batu ke pasar internasional.
Selama ini, petani dan pedagang bunga Sidomulyo harus mengurus layanan karantina hingga Surabaya. Jarak tersebut dinilai menambah biaya logistik dan memperpanjang proses pengiriman.
Kepala Desa Sidomulyo Subandri mengaku siap memfasilitasi kebutuhan tersebut. Apalagi, Sidomulyo memiliki kelompok petani dan pedagang bunga yang dinilai siap menembus pasar ekspor. “Kalau memang itu sangat diperlukan, maka akan kami lakukan,” ujarnya.
Baca Juga: Indonesian Television Awards 2026 Sudah Open Voting, Berikut Kategori dan Nominasinya - Radar Batu
Menurut Subandri, tanaman hias merupakan komoditas yang rentan selama proses pengiriman. Waktu tempuh yang panjang berpotensi menurunkan kualitas bunga. “Kalau kualitasnya turun akibat proses yang lama, petani dan pedagang yang akhirnya menanggung kerugian finansial secara langsung,” terangnya.
Pemdes Sidomulyo akan segera menjalin komunikasi dengan Badan Karantina Indonesia. Pertemuan akan melibatkan instansi karantina, kelompok tani, hingga asosiasi pedagang bunga. Pembahasan difokuskan pada pemenuhan standar karantina dan kemungkinan penyederhanaan layanan.
Dengan demikian, proses pengiriman bunga dari Kota Batu diharapkan lebih efisien. Optimalisasi distribusi tersebut juga diharapkan memperluas pasar tanaman hias Sidomulyo. Desa ini telah memiliki Mal Bunga serta jaringan petani dan pedagang yang cukup berkembang. “Kerja sama ini membuka peluang kompetisi di pasar global,” tutupnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan